PEDOMAN SHOLAT SUNNAH

1 11 2008

1. Pengertian sunnah

Secara bahasa, tathawwu’ berarti tambahan atau kelebihan. Setiap orang yang mengerjakan kebaikan yang sifatnya tambahan disebut muthathowwi. Tathawwu’ juga bisa berarti sesuatu yang dikerjakan secara sukarela. Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 184:

 

أَيَّاماً مَّعْدُودَاتٍ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْراً فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿١٨٤﴾

184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

“ …Barang siapa yang mengerjakan kebajikan secara sukarela, maka itulah yang lebih baik baginya… “(  Al Hadits )

Ibadah tathawwu’ (sunnah) adalah semua ibadah yang dikerjakan seorang muslim secara sukarela, murni berdasarkan kemauannya, dan bukan merupakan ibadah yang diwajibkan atasnya.

 

2. Keutamaan Shalat Sunnah

Diantaranya sebagai berikut :

  1. Sebagai penyempurna shalat wajib dan menutupi kekurangannya
  2. Dapat meninggikan derajat dan menghapus dosa
  3. Salah satu sebab Allah memasukannya kesurga dan bisa menemani Nabi SAW didalamnya
  4. Merupakan amal sunnah anggota badan yang paling utama setelah jihad dan belajar serta mengajarkan ilmu
  5. Mendatangkan berkah ketika dikerjakan dirumah
  6. Muthatowwinya dicintai Allah
  7. Kesempurnaan dalam melaksanakan shalat sunnah akan menambah rasa syukur kepada Allah SWT.

 

D. Macam – macam shalat sunnat

 

1. Shalat Sunnah Rawatib

            Shalat Sunnah Rawatib yang Muakkad (ditekankan) ada 12 raka’at, dalam hadits ’Aisyah R.A.. disebutkan bahwa Rasulullah SAW. Bersabda, yang artinya adalah :

” Barang siapa yang selalu mengerjakan shalat sunnah 12 raka’at (dalam sehari semalam), maka kelak Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah disurga. Ke 12 raka’at itu adalah 4 raka’at sebelum Dzuhur, 2 raka’at sesudah Dzuhur, 2 raka’at setelah Maghrib, 2 raka’at setelah Isya’ dan 2 raka’at sebelum shalat Shubuh.” (HR. Tirmidzi dan ibnu Majah. Dishahihkan Albani dlm Shahih Sunan Tirmidzi I/131 dan dlm Shahih Sunan Ibnu Majah I/188).

           

            Shalat Sunnah Rawatib yang Ghoiru Muakkad (tidak ditekankan) ada 8 rakaat.

a. 4 (empat) raka’at sebelum Ashar, hal ini dijelaskan dalam hadits Ibnu Umar R.A.. ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya :

” Niscaya Allah akan memberi rahmat kepada seseorang yang mengerjakan 4 raka’at sunnah sebelum shalat Ashar ”. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan lainnya. Dihasankan Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/237).

 

b. 2 (dua) raka’at sebelum Maghrib, disebutkan dalam hadits ’Abdullah bin Mughaffal r.a. dari Nabi saw bahwa beliau bersabda : ”Kerjakanlah 2 raka’at sunnah sebelum shalat Maghrib”. Pada kali ketiganya Beliau bersabda : ”Bagi siapa yang mau mengerjakannya”. (HR. Bukhari)

 

c. 2 (dua) raka’at sebelum Shalat Isya’, ini didasarkan pada hadits ’Abdullah bin Mughaffal r.a. ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: ”Antara setiap adzan dan iqamat ada shalat sunnah, antara setiap adzan dan iqamat ada shalat sunnah”. Pada kali ketiganya Beliau bersabda : ”Bagi siapa yang mau mengerjakannya”.(HR. Bukhari)

 

2. Shalat Sunnah Witir

            Termasuk shalat sunnah yang Muakkad (ditekankan), dan lebih utama jika dikerjakan pada akhir malam bagi yang bisa bangun pada waktu tersebut, namun bisa juga dikerjakan sebelum tidur bagi yang merasa khawatir tidak bisa bangun pada akhir malam. Dianjurkan juga untuk membangunkan keluarga guna menunaikan shalat Witir.

Dalam hadits ’Abdullah bin ’Amr bin ’Ash, dari Abu Basrah Al-Ghifari, dari Nabi saw, beliau bersabda : ”Sesungguhnya Allah telah mengaruniakan kepada kalian sarana tambahan untuk meraih pahala-Nya dengan suatu shalat, yakni shalat Witir, maka kerjakanlah shalat tersebut antara waktu shalat Isya’ dan shalat Shubuh”.(HR. Ahmad, dishahihkan Albani dalam Irwa’ul Ghalil II/258).

            Adapun diantara bilangannya adalah hadits dari ’Aisyah r.a. dia berkata: ”Adalah Rasulullah saw. biasanya mengerjakan shalat (Tahajjud) diantara waktu selesainya shalat Isya’ dan terbit fajar sebanyak 11 raka’at, Beliau salam pada setiap 2 raka’at, lalu mengerjakan witir 1 rakaa’t”.

            Atau bisa juga 3 raka’at, atau bahkan 1 raka’at sekalipun, yang terpenting adalah jumlah bilangannya harus ganjil. Bagi orang yang mengerjakan shalat Witir sebanyak 3 raka’at hendaklah membaca surah Al-A’laa diraka’at pertama, Al-Kaafiruun diraka’at kedua dan Al-Ikhlash pada raka’at ketiga.

            Dalam satu riwayat shahih dari Nabi saw. bahwa beliau terkadang membaca do’a qunut pada saat sebelum ruku’, dan terkadang setelah ruku’, dan semuanya masyru’ (disyari’atkan, sesuai aturan syar’i), akan tetapi yang lebih afdhal adalah membacanya pada saat setelah ruku’. Ketika membaca do’a pada waktu qunut dianjurkan untuk mengangkat tangan, dan bagi ma’mum agar mengamini do’a imam.

            Shalat Witir adalah merupakan penutup shalat malam, jadi tidak ada 2 shalat Witir dalam 1 malam.

 

3. Shalat Sunnah Dhuha

            Termasuk shalat sunnah yang Muakkad (ditekankan). Hal ini karena Nabi saw biasa mengerjakannya, menganjurkan pada para sahabatnya, dan mewasiatkannya agar mengerjakannya. Juga didasarkan pada Hadits Abu Darda’ r.a. bahwa ia berkata :

”Kekasihku saw. pernah mewasiatkan kepadaku 3 hal yang tidak akan aku tinggalkan selama hayatku: berpuasa 3 hari pada setiap bulan (Hijriah/yaumul bidh, tanggal 13,14 dan 15), mengerjakan 2 raka’at shalat Dhuha, dan mengerjakan shalat witir sebelum tidur.” (HR.Muslim)

 

- Beberapa keutamaan dari shalat Dhuha

1)      Dengan 2 raka’at Dhuha sebagai pengganti shadaqah yang dibebankan pada tiap ruas tulang manusia yang berjumlah 360 ruas.

2)      Dengan 4 raka’at Dhuha Allah akan memberikan kecukupan sampai akhir siang.

3)      Setelah shalat shubuh berjama’ah, kemudian ia tetap duduk (dimasjid) untuk berdzikir hingga matahari terbit (dan meninggi), kemudian shalat Dhuha 2 raka’at maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana haji dan umroh yang sempurna.

 

4. Shalat Sunnah Mutlak

            Shalat Sunnah Mutlak disyari’atkan di sepanjang malam dan siang hari, kecuali pada waktu – waktu yang terlarang.

 

5. Shalat Sunnah Tahajjud

            Tahajjud dari kata hajada artinya tidur pada malam hari, bisa berarti melaksanakan shalat pada malam hari. Mutahajjid adalah orang yang melaksanakan shalat malam setelah tidur terlebih dahulu, termasuk shalat sunnah yang Muakkad (ditekankan), waktu yang paling utama adalah sepertiga malam terakhir, namun ia boleh dikerjakan pada awal malam, pertengahannya atau kapan saja seorang muslim merasa mudah untuk bangun dan melaksanakannya.

Diantara yang afdhal bilangannya adalah hadits dari ’Aisyah r.a. dia berkata:  ”Shalat yang Rasulullah saw. kerjakan antara waktu selesainya shalat Isya’ hingga terbit fajar adalah sebanyak 11 raka’at, Beliau salam pada setiap 2 raka’at, dan terakhir mengerjakan witir 1 rakaa’t”.(HR. Muslim)  

 

a. Adab Shalat Tahajjud

Ø  Berniat mengerjakan shalat tahajjud sebelum tidur

Ø  Mengusap wajah ketika bangun guna menghilangkan kantuk , berdzikir kepada Allah, lalu bersiwak dan membaca do’a.

Ø  Mengawali dengan dua raka’at yang ringan 

Ø  Dianjurkan untuk melaksanakannya di rumah dan membangunkan anggota keluarga untuk ikut melaksanakan shalat Tahajjud

Ø  Dianjurkan untuk melaksanakannya secara kontinyu/berkesinambungan

Ø  Jika ngantuk, dianjurkan untuk menundanya dan tidur sejenak hingga kantuknya hilang 

Ø  Hendaknya membaca ayat Al-Qur’an sebanyak 1 juz, namun bisa juga lebih atau kurang sesuai kehendak, bacaanyapun bisa jahr (dikeraskan) atau sirr (tidak dikeraskan).

 

 

 

 

 

b. Keutamaan Shalat Tahajjud

Ø  Senantiasa menjadi hamba yang banyak bersyukur

Ø  Diantara asbab seorang hamba masuk surga, dan mendapat derajat yang tinggi di surga serta berhak atas rahmat-Nya

Ø  Mendapat pujian dari Allah dan digolongkan-Nya termasuk hamba-Nya yang berbakti, yakni ibaadurrahmaan, dan sempurna imannya

Ø  Sebab dihapusnya dosa dan penghalang dari berbuat dosa

Ø  Shalat sunnat yang utama setelah shalat fardhu

Ø  Merupakan kemuliaan bagi orang mukmin

 

E. Shalat Sunnah yang berkaitan dengan sebab tertentu

 

1. Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid

            Mengerjakannya adalah sunnah muakkad (ditekankan) bagi setiap muslim yang memasuki masjid saat kapan saja. Hal ini didasarkan pada hadits Abu Qatadah r.a. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda yang artinya :

”Bila seseorang dari kalian memasuki masjid, janganlah ia duduk sebelum melaksanakan shalat (sunnah) 2 raka’at terlebih dahulu.” (HR. Bukhari – Muslim). Dalam riwayat Jabir ia berkata yang artinya : ”Pernah pada hari Jum’at ketika Rasulullah saw. sedang berkhutbah, tiba-tiba Sulaik Al-Gathafany masuk masjid dan langsung duduk, Beliau lalu menegurnya seraya berkata : Wahai Sulaik, berdirilah, kerjakanlah shalat 2 raka’at dan ringkaskanlah dalam mengerjakannya. ’Selanjutnya, beliau bersabda : ’Bila seseorang diantara kalian masuk masjid pada hari Jum’at sementara imam sedang berkhutbah, (tetap) kerjakanlah shalat (tahiyatul masjid) 2 raka’at, namun ringkaskanlah dalam mengerjakannya.’” (HR. Bukhari-Muslim).

 

2. Shalat Sunnah Sebelum Shafar

            Dari Muth’im bin Miqdam r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda :”Tidak satupun yang lebih utama ditinggalkan seseorang pada keluarganya daripada shalt 2 raka’at yang dilakukannya sewaktu ia hendak bepergian”. (HR. Thabrani dan Ibnu Asakir, sedang sanadnya mursal).

Hal –hal yang disunahkan waktu safar

  1. Disunnahkan melakukan perjalanan pada hari Kamis
  2. Disunnahkan membawa teman sejawat
  3. Disunnahkan berpamitan kepada kaum kerabat dan keluarga serta minta di do’akan dan mendo’akan mereka
  4. Minta dido’akan oleh musafir ditempat yang suci

 

3. Shalat Sunnah sepulang dari Shafar

            Saat pulang dari shafar dianjurkan bagi seorang muslim untuk melaksanakan shalat 2 raka’at dimasjid terlebih dahulu sebelum masuk kerumahnya, hal ini didasarkan pada hadits Jabir r.a. ia berkata : ”Bahwasannya Rasulullah saw. tidak pulang dari shafar, melainkan pada siang hari, yakni pada waktu Dhuha. Bila pulang, Beliau masuk ke mesjid untuk mengerjakan shalat 2 raka’at, lalu duduk didalamnya terlebih dahulu.” (HR. Bukhari-Muslim)

            Imam Nawawi r.h. berkata bahwa dalam hadis diatas terdapat anjuran untuk melaksanakan shalat 2 raka’at dimasjid bagi seseorang yang tiba dari shafarnya. Shalat ini bukanlah merupakan shalat tahiyatul masjid. Juga terdapat anjuran untuk tiba dari shafar pada permulaan siang.

 

 

 

4. Shalat Sunnah sehabis Wudhu

            Shalat sunnah sehabis wudhu adalah sunnah muakad bagi siapa saja dan kapan saja baik siang maupun malam. Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. pernah bersabda kepada Bilal sehabis shalat Shubuh: ”Wahai Bilal, tolong beritahukan kepadaku amal apa yang engkau harapkan paling banyak pahalanya yang engkau kerjakan dalam Islam, sebab (dalam mimpiku semalam) aku mendengar suara langkah alas kakimu ada didepanku di dalam surga!” Dia menjawab ”Amalan tersebut tidaklah aku berwudhu’, baik pada malam hari maupun siang hari, melainkan sesudahnya aku mengerjakan shalat sesuai kemampuan yang Allah berikan kepadaku.” (HR. Bukhari-Muslim)

            Imam Nawawi r.h. berkata bahwa hadis diatas menunjukan keutamaan shalat sehabis wudhu yang hukumnya sunnah, dan boleh dikerjakan meskipun pada waktu terlarang seperti sehabis Shubuh atau Ashar, karena shalat ini berhubungan dengan sebab tertentu yaitu wudhu. Shalat sunnah sehabis wudhu juga merupakan sunnah azhimah (perbuatan sunnah yang agung).

 

5. Shalat Sunnah Istikharah

            Dalam hadits Jabir bin Abdullah r.a. ia berkata: Rasulullah saw. pernah mengajariku untuk shalat Istikharah dalam setiap urusan. Beliau bersabda:  ’Jika seseorang diantara kalian bermaksud melaksanakan suatu urusan, hendaklah ia mengerjakan shalat sunnah 2 rakaat, kemudian (setelah salam) membaca do’a : (Ya Allah sungguh aku memohon kepada-Mu dipilihkan yang terbaik berdasarkan ilmu-Mu, memohon agar diberi keputusan berdasarkan keputusan-Mu, dan memohon dari karuniamu yang agung, sebab sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa, sedang aku tidak berkuasa; Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui; dan Engkau Maha Mengetahui segala hal yang Ghaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini (seraya disebutkan keperluannya) adalah baik bagi agamaku, kehidupanku, dan akhir dari urusanku [atau... awal dan akhir urusanku], maka tetapkanlah ia untukku dan mudahkanlah aku dalam urusan ini, kemudian berkahilah dia untukku; jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk bagi agamaku, kehidupanku dan akhir urusanku [atau... awal dan akhir urusanku], maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku darinya. Tetapkanlah kebaikan untukku dimanapun aku berada, kemudian jadikanlah aku ridha menerima apapun keputusan-Mu.’” (HR. Bukhari)

            Menurut Ibnu Taimiyah r.h., seorang muslim boleh saja melaksanakannya pada waktu terlarang, karena shalat ini berkaitan dengan suatu keperluan, yang sekiranya kalau ditangguhkan, urusanya menjadi luput.  

 

6. Shalat Sunnah Taubat

            Dari Ali r.a. dari Abu Bakar r.a. bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda yang artinya : ’Tidaklah seorang hamba yang berbuat dosa, lalu berwudhu dengan sempurna, kemudian berdiri mengerjakan shalat 2 raka’at, kemudian memohon ampun kepada Allah, melainkan Allah pasti mengampuninya.’ Beliau lalu membaca ayat (135 dari surah Al Imran) berikut ini: ’Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.’ (HR.Abu Dawud dan Tirmidzi. Dishahihkan Albani dalam sunan Abi Dawud I/283)

            Menurut Ibnu Taimiyah r.h., seorang muslim boleh saja melaksanakannya pada waktu terlarang, karena taubat harus segera dilaksanakan setelah seseorang terjerumus dalam dosa.

 

7. Sujud Tilawah

            Sujud tilawah adalah sujud yang dikerjakan apabila melewati ayat sajadah ketika membaca Al Qur’an atau bagi yang mendengarkannya. Hukumnya sunnah muakkad, dianjurkan untuk bersujud bagi pendengarnya jika yang membaca bersujud. Caranya dengan menghadap kekiblat, lalu bertakbir, lalu sujud, lalu membaca do’a sujud, lalu bangkit lagi tanpa mambaca takbir, tanpa tasyahud, dan tanpa salam.

 (Do’a)

 

8. Sujud Syukur

            Sujud Syukur disunnahkan tatkala seorang muslim mendapat limpahan nikmat atau tatkala tersingkirnya sebuah bencana lantaran sebabnya bisa diatasi sehingga seorang muslim selamat darinya. Hadits Abu Bakrah r.a. yang menyebutkan ”Bahwasannya bila Nabi saw. bila mendapat sesuatu yang menyenangkan atau diberi kabar gembira, Beliau menyungkur bersujud syukur kepada Allah swt. Tabaaroka wata’ala ”(HR. Abi Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad. Dishahihkan Albani dalam sunan Abi Dawud II/534 dan dihasankan dalam Irwa’ul Ghalil II/226 hadist no. 474). Caranya sama dengan sujud tilawah.

 

F. Hal – hal khusus dalam Shalat Sunnah

 

1. Shalat Sunnah Sambil Duduk

            Shalat sunnah sah dikerjakan sambil duduk meskipun sebenarnya dia mampu untuk berdiri, atau sebagian sambil berdiri dan sebagian yang lain sambil duduk. Namun pahalanya separuh dari yang shalatnya berdiri (HR. Muslim).

            Diriwayatkan dari ’Aisyah r.a. ia berkata : ”Saya pernah melihat Nabi saw. shalat dengan duduk sambil bersila ” (HR. Nasa’i, Hakim dan Ibnu Khuzaimah. Dishahihkan Albani dalam shahih sunan Nasa’i I/365)

 

2. Shalat Sunnah Diatas Kendaraan

            Sah dilakukan diatas kendaraan apapun, didasarkan pada hadits Amir bin Rabi’ah r.a. ia berkata : ”Saya pernah melihat Nabi saw. shalat diatas unta tunggangannya sesuai arah unta tunggangannya itu menghadap.” (HR. Bukhari-Muslim).

 

3. Rumah Tempat Paling Baik untuk Shalat Sunnah

            Dari Zaid bin Tsabit ia menyebutkan : ”Sesungguhnya shalat seseorang yang paling utama adalah yang dikerjakan dirumahnya, kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari-Muslim). Dan yang paling dicintai Allah swt. adalah shalat sunnah yang dilakukan secara kontinyu/terus-menerus.

 

4. Mengerjakan Shalat Sunnah Sesekali Secara Berjama’ah

            Tidaklah mengapa seorang muslim melakukan shalat sunnah sesekali secara berjamaah. Dari ’Abdullah bin Mas’ud r.a. ia berkata: ”Saya pernah melakukan Shalat malam berjamaah bersama Rasulullah saw….” (HR. Bukhari-Muslim)

 

G. Shalat Jama’ dan Qoshor

            Sebagai Agama yang memberikan kemudahan bagi pemeluknya, Islam mengajarkan shalat jama’ dan shalat qashar. Jama’ artinya menggabungkan 2 shalat dalam satu waktu, baik didahulukan (takdim) atau di akhirkan (ta’khir). Qashar artinya meringkas shalat yang 4 raka’at menjadi 2 raka’at. Atau bisa juga shalat di jama’ dan di qashar (digabung sekaligus dan diringkas).

            Syarat utama dapat dilakukannya qashar adalah bepergian jauh, seberapa jauh jarak yang ditempuh sehingga membolehkan untuk di qashar ? ini di ikhtilafkan oleh para sahabat, ada yang mengatakan minimal 3 mil, ada yang mengatakan kurang dari itu, bahkan -/+ ada 20 pendapat yang berbeda tentang hal itu.

            Imam Ahmad, Muslim, Abi Dawud dan Baihaqi meriwayatkan dari Yazid ia berkata, aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang shalat qashar, maka ia menjawab: ”adalah Nabi saw. Mengqashar shalat apabila bepergian 3 mil/farsakh atau lebih”. Alhafizd Ibnu Hajar Al Asqalani berkata dalam kitab Fathul Bari’, bahwa ini adalah hadits paling shahih dalam penentuan jarak qashar. Adapun pelaksanaan qashar shalat hendaklah dilakukan apabila musafir sudah bertolak meninggalkan kampungnya, berkata Ibnu Munzir bahwa Nabi saw. Tidaklah mengqashar shalatnya kecuali sudah keluar dari Madinah.

            Sebagian ulama salaf ada yang berpendapat bahwa manakala musafir telah niat pergi ia boleh mengqashar shalat sekalipun masih dirumah.

            Sampai kapankah musafir boleh mengqashar shalatnya? Musafir selama tidak niat untuk menetap dan menjadi penduduk suatu kampung, maka ia boleh mengqashar shalatnya sekalipun ia sudah tinggal 2 tahun lebih di kampung tersebut, demikian pendapat Ibnul Qayyim. Madzhab Imam Syafi’i menetapkan syarat maksimum 4 hari. Sedangkan Rasulullah saw. Sendiri tinggal di Tabuk 20 hari dan tetap mengqashar shalatnya. Diriwayatkan dalam shahih Bukhari dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw. Tinggal di salah satu tujuan safarnya sampai 19 hari dan tetap mengqashar shalatnya, karena itu bila kami bepergian 19 hari kami mengqasharnya, bila lebih kami sempurnakan shalat kami. Diriwayatkan bahwa Anas bin Malik tinggal di Syam 2 tahun dan tetap mengqashar shalatnya, para sahabat Nabi yang lain tinggal di Hurmuz (wilayah Romawi) 7 bulan dan tetap mengqashar shalatnya.

 

            Adapun shalat jama’ baik ta’khir maupun takdim diperbolehkan apabila :

  1. Di Arafah dan Muzdalifah dalam musim pelaksanaan haji
  2. Sedang bepergian, dengan syarat bukan perjalanan maksiat
  3. Karena turun hujan lebat, Imam Bukhari meriwayatkan bahwa bila musim hujan sedang lebat Rasulullah menjama’ shalat maghrib dan Isya’
  4. Karena sakit, atau uzur yang diperkenankan syara’
  5. Menjama’ karena ada kebutuhan yang lain, Muslim meriwayatkan dari Abdillah bin Syaqiq bahwa Abdullah bin Abbas berkhutbah ba’da Ashar sampai matahari terbenam dan matahari bermunculan, orang-orang pun mengingatkan ”shalat – shalat” kemudian datang seorang laki-laki dari bani Tayim yang tidak henti-hentinya berkata ”shalat-shalat”, maka Abdullah bin Abbas berkata kepadanya apakah engkau akan mengajariku tentang shalat wahai orang yang tidak punya ibu, aku melihat Rasulullah saw. menjama’ antara Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’. Abdullah bin Syaqiq merasa ada keraguan dalam hatinya maka ia mendatangi Abu Hurairah dan bertanya tentang hal itu, maka Abu Hurairah membenarkan perkataan Abdullah bin Abbas.     

 

H. Shalat Jenazah

            Para ulama ahli fiqih telah sepakat bahwa hukumnya adalah fardhu kifayah, diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. berkata yang artinya : ”Seorang laki-laki yang meninggal dalam keadaan berutang disampaikan beritanya kepada Nabi saw. maka Nabi akan menanyakan apakah ia ada meninggalkan kelebihan untuk pembayaran utangnya, jika dikatakan orang bahwa ia meninggalkan harta untuk pembayarannya, maka beliau akan menshalatkannya, jika tidak beliau akan memesankan kepada kaum muslimin,’shalatkanlah temanmu ini.’”  (HR.Bukhari-Muslim)

            Diisyaratkan pula syarat sebagaimana shalat fardhu, seperti suci dari hadats besar maupun kecil, menghadap kiblat dan menutup aurat. Dapat dilakukan kapanpun sekalipun pada waktu yang dilarang.

            setelah syarat dipenuhi, cara melakukannya adalah hendaklah berdiri lurus dan menghadap kiblat, berniat menshalatkan jenazah yang ada didepannya, lalu mengangkat kedua belah tangan sambil membaca takbiratul ihram, setelah itu meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri dan mulai membaca Al-Faatihah, setelah itu membaca takbir lagi (yang kedua) dan mambaca shalawat kepada Rasulullah saw.(bacaan shalawatnya boleh yang mana saja, panjang ataupun pendek), lalu takbir lagi (yang ketiga) dan berdo’a untuk jenazah, kemudian takbir (yang keempat) dan berdo’a lagi, kemudian salam. Disunnahkan juga dalam melaksanakannya membentuk tiga shaf.

About these ads

Aksi

Information

One response

15 11 2008
Joko W

Assalamu’alaikum Wr Wb

Makasih Pak haji atas refreshingnya

Wassalam

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.