Nilai Diri Adalah Keimanan Dan Akhlak

22 01 2008

Ada seorang miskin, mengenakan kain usang, pakaian lusuh, perut lapar, kaki tak beralas, berasal dari garis keturunan yang tidak terhormat, tidak punya kedudukan, harta dan keluarga besar, tidak punya rumah untuk berteduh, tidak punya perabotan berharga, minum hanya dari air kolam umum yang diambil dengan gayung kedua tangannya, tidur di masjid, tidur hanya berbantalkan tangan dan berkasur pasir bercampur kerikil. Namun begitu, dia adalah seorang yang selalu berdzikir kepada Rabbnya, selalu membaca Kitab Allah, dan selalu berada pada shaff terdepan dalam shalat maupun dalam perang.

Suatu ketika dia lewat di dekat Rasulullah, Lalu Rasulullah memanggil namanya dengan nyaring, “Wahai Julaibib, tidakkah kamu menikah?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, siapakah yang mau menikahkan putrinya denganku? Aku tidak punya kedudukan dan tidak pula harta.”

Beberapa hari kemudian Rasulullah bertemu dengannya. Rasulullah menanyakan pertanyaan yang sama, dan dia pun menjawabnya dengan jawaban yang sama pula. Pada pertemuan yang ketiga Rasulullah mengajukan pertanyaan yang sama, dan dijawab dengan jawaban serupa. Maka bersabdalah Rasulullah, “Wahai, Julaibib, pergilah ke rumah Fulan –Rasulullah menyebut nama seorang Anshar– lalu katakan padanya, ‘Rasulullah menyampaikan salam untukmu dan memintamu untuk mengawinkanku dengan anak perempuanmu’.”

Sahabat Anshar dimaksud berasal dari keluarga terhormat dan terpandang, maka berangkatlah Julaibib menemuinya. Diketuknya pintu rumahnya, dan kemudian disampaikannya apa yang diperintahkan oleh Rasulullah. Sahabat Anshar dimaksud mengatakan, “Semoga kesejahteraan tercurah untuk Rasulullah. Tapi bagaimana bisa aku mengawinkan anakku denganmu yang tidak mempunyai kedudukan dan harta?” Dari dalam anak putrinya yang mukminah mendengar apa yang dikatakan oleh Julaibib dan pesan Rasulullah yang disampaikannya, segera anak perempuan mukminah itu berkata kepada kedua orang tuanya, “Apakah kalian menolak permintaan Rasulullah? Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya!”

Selanjutnya, terjadilah sebuah pernikahan yang penuh berkah, melahirkan sebuah keluarga yang penuh berkah, serta rumah tangga yang baik yang didasarkan atas ketakwaan kepada Allah dan keridhaan terhadap perintah-Nya. Beberapa waktu kemudian, datanglah seruan jihad. Julaibib pun ikut berperang. Dengan tangannya terbunuh tujuh orang musuh. Namun, dia sendiri juga terbunuh. Dia syahid dengan berbantalkan tanah dengan penuh keridhaan kepada Allah, Rasul-Nya dan kepada prinsip-prinsip yang menghantarkannya kepada ajal. Setelah itu Rasulullah memeriksa semua korban dalam perang itu. Dan para sahabat memberitahukan nama-nama siapa saja yang terbunuh. Tidak ada nama Julaibib disebut, sebab memang dia tidak terkenal di kalangan sahabat. Namun Rasulullah ingat sekali Julaibib. Beliau hafal nama itu di tengah nama-nama besar yang terbunuh. Sergah Rasulullah: “Tapi kini aku kehilangan Julaibib.”

Rasulullah mendapati jasadnya penuh dengan debu, dan mengusap debu dari wajahnya seraya berkata : “Engkau talah membunuh tujuh orang, lalu engkau sendiri kini terbunuh. Engkau bagian dariku dan aku bagian darimu. Engkau bagian dariku dan aku bagian darimu.” Pengenal dari Nabi ini sudah cukup buat Julaibib sebagai tanda dan hadiah.

Sebenarnya nilai seorang Julaibib adalah keimanannya, kecintaan Rasulullah kepadanya dan prinsip yang dia pegang teguh sampai dia harus mati karenanya. Kemiskinannya dan ketidakjelasan garis keluarganya tidak pernah menjadi penghambat untuk memeproleh kedudukan mulia dan besar ini. Dia telah mencapai cita-citanya untuk mati syahid, mendapatkan keridhaan, diterima oleh masyarakat, dan mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.

“Mereka dalam keadan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS Ali ‘Imran :170)

Sesungguhnya nilai diri itu ada dalam makna-makna dan sifat-sifat mulia yang ada dalam diri.

Kebahagiaan Anda ada dalam pemahaman, perhatian, dan keinginan anda yang kuat terhadap sesuatu.

Kemiskinan dan kelemahan bukan hambatan bagi seseorang untuk mencapai prestasi yang baik, untuk sampai ke tujuan, dan unggul atas orang lain. Maka berbahagialah orang yang mengetahui harga dirinya, berbahagialah orang yang telah membuat jiwanya bahagia dengan impian yang telah dicapainya, jihad yang diikutinya, dan akhlak baik yang menjadi nilainya. Berbahagialah yang telah menjadi baik sebanyak dua kali, yang berbahagia di dua kehidupan dan mendapat kemenangan dua kali : di dunia dan di akhirat.

(Sumber : Laa Tahzan dari ‘Aidh Al Qarni)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s