Menggapai Surga Dengan Kalimat Tahlil

28 03 2008

Dalam sebuah atsar sahabat, disebutkan bahwa kalimat Tahlil (Laa ilaaha illalloh) adalah kunci surga. Lalu muncul pertanyaan, apakah semua orang yang mengucapkan Tahlil pasti masuk surga? Untuk menjawab pertanyaan diatas, perlu diketahui apa sebenarnya makna Laailaaha illalloh.

Orang sering artikan kalimat ini dengan “tiada tuhan selain Alloh”. Akan tetapi, realitas menunjukkan banyak makhluk yang dianggap Tuhan oleh manusia (Al-Furqon ayat 43, al-Jaatsiah ayat 23). DR. Sholeh bin Fauzan dalam Kitab Tauhid I, menerangkan bahwa para ulama “salaf” bersepakat untuk memaknai kalimat ini dengan “tidak ada Tuhan yang hak untuk disembah selain Alloh”. Pada pemaknaan tersebut sesuai dengan realitas, karena banyak manusia yang menyembah “Tuhan” yang mereka ciptakan sendiri. Menurut aqidah Islam, sekian banyak “Tuhan” yang di sembah oleh manusia di dunia ini adalah batil kecuali satu yaitu Alloh.

Para ulama juga sepakat bahwa rukun kalimat Laailaaha illalloh ada dua, yaitu pertama adalah Nafyun, yang berarti peniadaan. Nafyun dalam hal ini di tunjukkan oleh kalimat Laailaaha. Orang yang mengucapkan kalimat Laailaaha illalloh, pertama-tama harus mengakui tiadanya Tuhan yang hak di dunia ini. Tentu tidak hanya itu, karena jika orang hanya mengakui ini saja, ia akan menjadi atheis (orang yang tak bertuhan). Maka harus di lanjutkan dengan kalimat Illalloh, kalimat ini menunjukkan rukun kedua yaitu Itsbat yang berarti penetapan. Setelah kita meniadakan tuhan, maka kita harus menetapkan satu Tuhan yang wajib dan hak untuk di sembah yaitu Alloh.

Bila seseorang ingin membuka pintu surga, maka ia harus menguasai kunci ini dengan sempurna. Dengan mengakui salah satu rukun saja, maka yang ia ungkapkan dan yang dia akui itu tidak sah. Karena hal itu menyalahi ajaran Islam yang menetapkan ketuhanan hanya milik Alloh. Sehingga Nafyun dan Itsbat ini tidak boleh dipisah-pisahkan. Layaknya sebuah kunci, maka ia selalu memiliki gigi (pilar), dan kita tidak bisa membuka pintu dengan kunci yang tak memiliki gigi. Gigi (pilar) itu adalah syarat-syaratnya.

Ada tujuh syarat yang harus di penuhi oleh orang yang ingin membuka Surga dengan mengucapkan Tahlil. Ketujuh syarat itu ialah; pertama ‘Ilmu (Mengetahui), yaitu memahami makna dan maksudnya. Mengetahui apa yang di tetapkan dan apa yang di tiadakan (Az-Zukhruf : 86).

Syarat yang kedua Yaqin (Yakin), orang yang ingin membuka pintu surga dengan kalimat Laailaaha illalloh setelah mengetahui maknanya, ia harus yakin terhadap kandungan isi dari syahadat itu. Jikalau dia meragukannya maka sia-sia belaka persaksianya itu (Al- Hujurat : 15).

Adapun syarat yang ketiga ialah Qobul (Menerima), setelah mengetahui dan meyakini kalimat ini, maka orang yang mengucapkan syahadat ini harus menerima dengan tulus segala konsekuensi dari syahadatnya. Diantara konsekuensinya adalah menyembah Alloh semata tanpa adanya syirik dan menerima ketentuan Alloh tanpa perlawanan lahir maupun batin. Realitas yang kita dapati sekarang ini, banyak orang yang mengaku telah bersyahadat dan ia mengaku sebagai Muslim, tapi masih sering minta-minta (berdoa) pada kuburan wali dan yang semisalnya. Maka siapapun yang berucap dengan kalimat ini harus menerima konsekuensi itu dengan tulus.

Syarat yang ke empat yaitu, Inqiyad (Tunduk dan Patuh dengan kandungan Makna Laailaaha illallah). Ketundukan seorang yang bersyahadat, terhadap makna kalimat yang ia ikrarkan ini adalah mutlak untuk di laksanakan. Ia pun harus pasrah dengan segala ketentuan Allah.

Setelah memenuhi syarat-syarat diatas, orang yang ingin membuka pintu surga harus memenuhi syarat (pilar) yang kelima, yaitu Shidq (Jujur). Yaitu mengucapkan kalimat ini dengan lisannya dan membenarkan dalam hati. Orang yang mengucapkan saja namun hatinya tidak ikut membenarkan, maka ia adalah Munafik, sedangkan orang yang Munafik tidak akan masuk surga (Al-Baqarah ayat 8-10).

Syarat keenam adalah Ikhlas, yaitu membersihkan amalan dari debu-debu syirik, baik syirik besar yang berupa mensekutukan Alloh, maupun syirik kecil yaitu riya’, sum’ah dan yang semisalnya. Orang yang mengucapkan syahadat tetapi hanya mengharap pujian manusia dan agar dilihat orang lain, maka ucapanya itu ditolak.

Syarat yang terakhir atau yang ketujuh adalah Mahabbah (Kecintaan). Mencintai kalimat ini mempunyai makna yang banyak, di antaranya adalah mencintai Allah di atas segala-galanya, berpegang terhadap isi kalimat ini, juga mencintai orang-orang yang mengamalkan konsekuensinya. Sudah barang tentu dan sesuai dengan realitas bahwa orang yang mengikrarkan sesuatu sedangkan ia membencinya, maka ikrar itupun akan di tolak.

Orang yang ingin membuka pintu surga dan masuk didalamnya mengucapkan Tahlil terlebih dahulu, sebelum ia beribadah yang lain. Adapun tahlil itu memiliki rukun dan syarat yang juga harus dia penuhi dengan kata lain bukan sekedar mengucapkan dengan lisan. Setelah semua itu dilaksanakan, barulah ia bisa menggapai surga yang di janjikan Allah.


Aksi

Information

3 responses

6 04 2008
Aristiono Nugroho

Kalimat tahlil (laa ilaaha illallah) adalah komitmen manusia kepada Allah SWT, sebagai ekspresi pengamalan QS.112 (QS. Al Ikhlas).
Kalimat tahlil layak dianjurkan untuk dilaksanakan oleh umat Islam, karena penting dalam rangka membina perasaan, pemikiran, sikap, dan perilaku umat, maupun individu muslim.
Tetapi kalau “tahlillan”, harus cermat difahami. Sebaiknya umat Islam perlu diingatkan untuk menghindari “tahlillan” yang dihubungkan dengan “perayaan kematian” seseorang seperti: 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari. Karena hal ini tidak efektif dan efisien, bahkan cenderung mubazir.
Lebih baik, kalau ada rezeki, mengadakan pengajian untuk mendiskusikan nilai-nilai Islam, sambil membaca kalimat tahlil.
Untuk share silahkan klik http://sosiologidakwah.blogspot.com

6 04 2008
safety4abipraya

Membaca tahlil di sini konteksnya memang beda dengan “tahlilan” yang banyak merebak di masyarakat untuk memperingati meninggalnya kerabat dimana itu tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW, malahan itu menurut asbabun nudzulnya berasal dari Hindu.
Wallahu a’lam

24 06 2011
sulianto

Assalamulaikum …. membaca kalimat tahlil itu baik dan memang wajib buat manusia yang percaya , bahwa tuhan itu hanya satu yaitu Allah SWT. Tahlilalan, membaca kalimat tahlil secara bersama dan itu bukan saja untuk memperingati meningglnya seseorang yang muslim di luar itu juga sering dibaca bersama . Supaya kita selalu ingat kepada Tuhan Allah SWT kalau kita selalu ingat InsyaAllah akan menjalkan kewajiban sebagai umat Islam yangToat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s