Penetapan Awal Dan Akhir Ramadhan

19 08 2008

hayatulislam.net – Perbedaan penetapan awal dan akhir Ramadhan masih menyisakan persoalan di kalangan kaum muslim. Meskipun harusnya tidak menjadi masalah, akan tetapi tidak urung muncul pro dan kontra tengah-tengah masyarakat. Untuk itu, kami merasa perlu untuk menjelaskan perbedaaan pendapat itu, sekaligus teknik untuk mentarjih, mana pendapat yang selayaknya diikuti oleh masyarakat.

1. Hisab dan Ru’yat

Puasa Ramadhan termasuk aktifitas ibadah yang metode atau tatacaranya telah ditetapkan oleh Allah SWT. Dengan kata lain ia adalah ibadah yang bersifat tauqifi (ditentukan apa adanya oleh Allah). Manusia tidak boleh menetapkan sendiri metode maupun tata cara untuk beribadah kepada Allah; termasuk di dalamnya menentukan masuknya bulan Ramadhan dan Syawal. Untuk itu, syara’ telah menentukan cara menetapkan awal dan akhir Ramadhan.

Lalu, metode dan tata cara mana yang paling dekat dengan kebenaran al-Qur’an dan as-Sunnah dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan? Hisab atau ru’yat? Mathla’ universal, atau mathla’ lokal ?

Bila kita meneliti argumentasi hisab dan ru’yat, kita akan berkesimpulan, bahwa ru’yat adalah pendapat yang paling rajih.

Pertama, penganut hisab membangun argumentasi mereka dengan keumuman ayat-ayat al-Qur’an.

Allah SWT berfirman :

Dialah yang menjadikan matahari bersinar, dan bulan bercahaya, dan ditetapkan manzilah-manzilah bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.”(Qs. Yunus [10]: 5).

Masih banyak lagi ayat yang mempunyai pengertian senada. Ayat ini dan ayat-ayat yang senada pengertiannya, tidak menunjukkan sama sekali perintah untuk memulai puasa Ramadhan dengan hisab. Ayat itu hanya berhubungan dengan kegunaan diciptakannya matahari, bulan, dan manzilah-manzilahnya (kedudukan), yakni untuk mengetahui bilangan tahun, dan waktu. Namun penganut hisab menyatakan bahwa puasa Ramadhan bisa ditetapkan dengan memperhatikan perjalanan bulan berdasar mafhum ayat ini. Mereka menyatakan bahwa, diciptakannya matahari dan bulan agar kita mengetahui bilangan tahun dan bulan. Atas dasar itu, kita juga bisa menentukan kapan mulai masuk bulan Ramadhan dengan cara perhitungan (hisab).

Pendapat ini lemah karena, pertama, ayat ini umum dan berlaku kaidah ushul, al-‘âm yabqa fi ‘umûmihi ma lam yarid dalil at-takhsish (sebuah dalil yang bersifat umum tetap pada kemumumannya, selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya).*1) Pada kasus penentuan awal Ramadhan, ada nash sharih yang menyatakan bahwa penentuan awal dan akhir Ramadhan harus berdasarkan ru’yat bukan dengan hisab. Riwayat ini merupakan pentakhshish (menkhususkan) keumuman ayat-ayat di atas. Rasulullah Saw bersabda :

Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal). Apabila pandangan kalian tersamar (terhalang), maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.”*2)

Janganlah kalian puasa hingga melihat hilal, jangan pula kalian berbuka hingga melihatnya, jika kalian terhalangi awan hitunglah bulan Sya’ban.”*3)

Janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari kecuali seseorang diantara kalian yang biasa berpuasa padanya. Dan janganlah kalian berpuasa sampai melihatnya (hilal Syawal). Jika ia (hilal) terhalang awan, maka sempurnakanlah bilangan tiga puluh hari kemudian berbukalah (Iedul Fithri) dan satu bulan itu 29 hari.”*4)

Puasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. Jika dua orang saksi mempersaksikan (ru’yat hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya.”*5)

Sesungguhnya bulan itu ada 29 hari, maka janganlah kalian berpuasa hingga melihatnya. Apabila mendung menutupi kalian, maka perkirakanlah.” [HR. Muslim].

Atas dasar itu, keumuman surat Yunus [10]: 5 dikususkan oleh hadits-hadits di atas. Padahal, kaidah ushul fiqh menyatakan, “wajib membawa umum menuju khusus bila ditemukan dalil yang lebih khusus”. Untuk itu mengamalkan dalil yang lebih khusus adalah kewajiban dan lebih utama.

Kedua, penganut hisab menetapkan keabsahan hisab bersandar kepada mafhum surat Yunus [10]: 5. Padahal ada nash sharih yang menjelaskan tentang ru’yat. Dalam kondisi seperti ini —mafhum bertemu dengan nash sharih—, menurut ulama ushul, mafhum harus dikalahkan bila ada nash sharih yang menentangnya. Walhasil, mafhum bolehnya hisab yang diambil dari surat Yunus [10]: 5 harus ditinggalkan dan harus mengikuti hadits sharih riwayat Bukhari dan Muslim di atas.

Kedua, penganut hisab juga menyandarkan pendapatnya pada hadits riwayat Imam Bukhari, “Sesungguhnya kami ini adalah ummat yang ummi. Tidak menulis dan menghisab.” Berdasar hadits ini mereka menyatakan bahwa ‘illat (sebab tasyri’) dilakukan ru’yat adalah karena saat itu kaum muslimin tidak mengetahui ilmu hisab. Jika mereka telah mengetahui hisab tentunya hisab diperbolehkan untuk mengganti ru’yat. Pendapat inipun sebenarnya sangat lemah. Pertama, hadits ini berbentuk akhbariyyah, yakni hanya menceritakan kondisi kaum muslimin pada saat itu. Ditinjau dari arah manapun, ummi bukanlah ‘illat (sebab tasyri’) ru’yat. Sehingga tidak bisa dikatakan bahwa bila mereka tidak ummi lagi, mereka boleh menetapkan Ramadhan dengan hisab. Atas dasar itu, hadits ini tidak menunjukkan perintah kepada kaum muslimin untuk melakukan hisab, akan tetapi hanya pemberitahuan mengenai kondisi kaum muslim pada saat itu. Kedua, kebolehan hisab yang digali dari hadits inididasarkan pada mafhum hadits ini. Padahal mafhum bila bertentangan dengan nash yang sharih, “Sesungguhnya bulan itu ada 29 hari, maka janganlah kalian berpuasa hingga melihatnya. Apabila mendung menutupi kalian, maka perkirakanlah.” [HR. Muslim], maka mafhum harus dikalahkan. Mafhum kebolehan hisab tentu akan bertentangan dengan makna sharih yang ditunjukkan oleh hadits-hadits yang berbicara tentang ru’yat.

Ketiga, penganut hisab juga menyandarkan pendapat mereka dengan hadits riwayat Imam Muslim :

Sesungguhnya bulan itu ada 29 hari, maka janganlah kalian berpuasa hingga melihatnya. Apabila mendung menutupi kalian, maka perkirakanlah.” [HR. Muslim].

Mereka menyatakan bahwa “perkirakanlah” disini artinya hitunglah, yakni bolehnya menetapkan awal Ramadhan dengan hisab. Pendapat ini pun juga lemah. Sebab, untuk menafsirkan kata “perkirakanlah”, maka kita harus melihat konteks hadits tersebut secara utuh, dan membandingkan dengan nash-nash hadits lainnya. Jika kita perhatikan nash-nash hadits lain dapat disimpulkan bahwa faqdurûlahu (perkirakan), artinya adalah “sempurnakanlah bilangan bulannya”. Sebagaimana riwayat menyebutkan :

Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal). Apabila pandangan kalian tersamar (terhalang), maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.”*6)

Janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari kecuali seseorang diantara kalian yang biasa berpuasa padanya. Dan janganlah kalian berpuasa sampai melihatnya (hilal Syawal). Jika ia (hilal) terhalang awan, maka sempurnakanlah bilangan tiga puluh hari kemudian berbukalah (Iedul Fithri) dan satu bulan itu 29 hari.”*7)

Berpuasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal), maka apabila mendung (menutupi) kalian maka sempurnakanlah hitungan menjadi tiga puluh hari.” [HR. an-Nasa’i].

Lebih jelas lagi bila kita membaca hadits riwayat Muslim :

Berpuasalah karena melihat bulan, dan berbuka puasalah karena melihat bulan, jika mendung, maka perkirakanlah (faqdurulah) (bulan Sya’ban) 30 hari.

Dengan demikian, penafsiran yang tepat terhadap kata faqdurûlahu adalah sempurnakan (fâkmilû) bilangan Sya’ban menjadi 30 hari, dan bukan menunjukkan bolehnya hisab. Dengan kata lain, jika kalian telah meru’yat dan terhalang mendung maka genapkanlah (sempurnakanlah) bilangan Sya’ban menjadi 30 hari. Selain itu, seandainya makna faqdurûlahu adalah hisab, tentunya Rasulullah Saw tidak akan menyatakan kalimat, “Jika kalian terhalang mendung”. Sebab, hisab tidak dipengaruhi ada mendung atau tidak.

Keempat, penganut hisab juga menyatakan bahwa kata liru’yatihi (melihatnya), tidak melulu bermakna melihat dengan mata telanjang. Namun kata ra’a, dapat diartikan berpikir. Oleh karena itu, mereka menyatakan bahwa riwayat-riwayat yang mencantumkan lafadz ra’a, bisa diartikan dengan memikirkan, atau bisa diartikan bolehnya menetapkan awal Ramadhan dengan hisab. Pendapat ini juga lemah. Bila kita perhatikan keseluruhan nash hadits sangat jelas, bahwa ru’yat di sana berarti melihat dengan mata telanjang, bukan hisab. Rasul bersabda :

Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal). Apabila pandangan kalian tersamar (terhalang), maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.”*8)

Berpuasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal), maka apabila mendung (menutupi) kalian maka sempurnakanlah hitungan menjadi tiga puluh hari.” [HR. an-Nasa’i].

Pada hadits itu juga ada kata, “jika terhalang mendung, maka sempurnakanlah hitungan menjadi tiga pula hari”. Lafadz ini dengan jelas menunjukkan bahwa ru’yat dalam nash tersebut berarti melihat dengan mata telanjang, bukan hisab. Sebab bila lafadz ra’a diartikan dengan hisab, maka apakah mendung (awan) bisa mengganggu perhitungan? Imam an-Nawawi,*9) dalam kitabnya dan dalam kitabnya Imam Ibnu Hajar,*10) terdapat hadits Nabi Saw :

Sessunguhnya kami adalah umat yang ummi. Kami tidak dapat menulis atau menghisab. Satu bulan ada begini, begini, begini (seraya menyodorkan kesepuluh jari tangan tiga kali, dengan menekuk jari jempol pada sodoran ketiga) dan satu bulan adalah begini, begini, begini (dengan membuka semua jari pada ketiga sodoran).” [HR. Bukhari, lafazh hadits menurut Imam Muslim].

Imam Ibnu Hajar kemudian memberi komentar (Syarah) hadits ini sebagai berikut, “Yang dimaksud dengan hisab dalam hadits ini adalah hisabun nujum (perhitungan ilmu falak) dan peredarannya. Orang-orang dahulu belum mengetahui ilmu itu, kecuali sedikit dan pengetahuannya pun amat sederhana. Dikaitkan dengan puasa dan (perkara) lainnya dengan ru’yat adalah untuk menghilangkan kesukaran dari mereka dalam menggunakan hisab peredaran bulan.

Penafsiran seperti diatas juga akan bertentangan dengan sabda Rasulullah Saw, “Sesungguhnya kami ini adalah umat yang ummi. Kami tidak dapat menulis atau menghisab…” [HR. Bukhari]. Seperti penjelasan Imam Ibnu Hajar, hadits ini menceritakan bahwa Rasulullah Saw tidak melakukan hisab. Oleh karena itu, bagaimana bisa dikatakan bahwa tafsir liru’yatihi adalah menghitung (bukan melihat dengan mata telanjang)? Sedangkan Rasulullah Saw tidak (bisa) melakukan hisab? Bukankah hadits di atas juga ucapan Rasul, dan terjadi pada masa Rasulullah? Dengan hak apa kita menafsirkan ucapan Rasulullah (ra’a) dengan hisab ?

2. Kritik atas Mathla’

Persoalan berikutnya adalah mathla’ (tempat lahirnya bulan). Ulama Syafi’iyyah menyatakan bahwa bila satu kawasan melihat bulan, maka daerah dengan radius 24 farsakh dari pusat ru’yat bisa mengikuti hasil ru’yat daerah tersebut. Sedangkan daerah di luar radius itu boleh melakukan ru’yat sendiri, dan tidak harus mengikuti hasil ru’yat daerah lain. Mereka menyandarkan alasan mereka dengan riwayat dari Kuraib.

Syaikh Abdurahman al-Jaziri menerangkan hal ini sebagai berikut, “Apabila ru’yatul hilal telah terbukti (terlihat) di salah satu negeri, maka negeri-negeri yang lain (juga) wajib berpuasa. Dari segi pembuktiannya tidak ada perbedaan lagi antara negeri yang dekat dengan yang jauh, jika (berita) ru’yatul hilal itu memang telah sampai kepada mereka dengan cara (terpercaya) yang mewajibkan puasa. Tidak diperhatikan lagi disini adanya perbedaan mathla’ hilal (tempat terbitnya bulan) secara mutlak. Demikianlah pendapat tiga imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Ahmad). Para pengikut madzhab Syafi’i berpendapat lain. Mereka mengatakan, ‘Apabila ru’yatul hilal di suatu daerah telah terbukti, maka atas dasar pembuktian ini, penduduk yang terdekat di sekitar daerah tersebut wajib berpuasa. Ukuran kedekatan di antara dua daerah dihitung menurut kesamaan mathla’, yaitu jarak keduanya kurang dari 24 farsakh (sekitar 120km). Adapun penduduk daerah yang jauh, maka mereka tidak wajib berpuasa dengan ru’yat ini, karena terdapat perbedaan mathla’.”*11)

Diriwayatkan dari Kuraib bahwa Ummul Fadl telah mengutusnya untuk menemui Muawiyyah di Syam. Kuraib berkata, “Aku memasuki Syam lalu menyelesaikan urusan Ummul Fadl. Ternyata bulan Ramadhan tiba sedangkan aku masih berada di Syam. Aku melihat hilal (bulan sabit) pada malam Jum’at. Setelah itu aku memasuki kota Madinah pada akhir bulan Ramadhan. Ibnu ‘Abbas lalu bertanya kepadaku dan menyebut persoalan hilal. Dia bertanya, ‘Kapan kalian melihat hilal?’ Aku menjawab, ‘Kami melihatnya pada malam Jum’at.’ Dia bertanya lagi, ‘Apakah kamu sendiri melihatnya?’ Aku jawab lagi, ‘Ya, dan orang-orang juga melihatnya. Lalu mereka berpuasa, begitu pula Muawiyyah.’ Dia berkata lagi, ‘Tapi kami (di Madinah) melihatnya pada malam Sabtu. Maka kami terus berpuasa hingga kami menyempurnakan bilan-gan tiga puluh hari atau hingga kami melihatnya.’ Aku lalu bertanya, ‘Tidak cukupkah kita berpedoman pada ru’yat dan puasa Muawiyyah?’ Dia menjawab, ‘Tidak, (sebab) demikianlah Rasulullah Saw telah memerintahkan kepada kami’.”*12)

Hadits ini mereka gunakan sandaran keabsahan mathla’. Padahal bila kita meneliti lebih lanjut pendapat para penganut mathla’, kita akan dapatkan sesungguhnya pendapat mereka adalah lemah.

Pertama, sebenarnya dalil yang mereka gunakan adalah ijtihad Ibnu ‘Abbas, bukan hadits yang diriwayatkan secara marfu’. Walaupun hadits itu secara lafadziyyah seakan-akan menunjukkan marfu’, yakni perkataan Ibnu ‘Abbas, “Tidak, (sebab) demikianlah Rasulullah Saw telah memerintahkan kepada kami”, namun bila kita bandingkan riwayat-riwayat lain yang juga diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas sendiri, maka terlihatlah bahwa perkataan Ibnu ‘Abbas itu adalah hasil ijtihad beliau sendiri. Ibnu ‘Abbas sendiri banyak meriwayatkan hadits marfu’ yang bertentangan dengan hadits riwayat dari Kuraib di atas. Semisal riwayat dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi Saw :

Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal). Apabila pandangan kalian tersamar (terhalang), maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.”*13)

Atas dasar itu, hadits dari Kuraib adalah ijtihad pribadi Ibnu ‘Abbas. Ijtihad shahabat tidak layak digunakan dalil untuk menetapkan hukum.*14)

Kedua, hadits tentang perintah ru’yat bersifat umum, dan khithab (seruannya) berlaku bagi seluruh kaum muslimin. Kata shûmû liru’yatihi adalah lafadz umum. Artinya, bila satu daerah telah melihat bulan, maka wilayah yang lain harus berpuasa karena hasil ru’yat daerah tersebut. Imam asy-Syaukani menyatakan, “Sabda beliau ini tidaklah dikhususkan untuk penduduk satu daerah tertentu tanpa menyertakan daerah yang lain. Bahkan sabda beliau ini merupakan khitab (pembicaraan) yang tertuju kepada siapa saja di antara kaum muslimin yang khitab itu telah sampai kepadanya. ‘Apabila penduduk suatu negeri telah melihat hilal, maka (dianggap) seluruh kaum muslimin telah melihatnya. Ru’yat penduduk negeri itu berlaku pula bagi kaum muslimin lainnya’.

Imam asy-Syaukani menyimpulkan, “Pendapat yang layak dijadikan pegangan adalah, apabila penduduk suatu negeri telah melihat bulan sabit (ru’yatul hilal), maka ru’yat ini berlaku pula untuk seluruh negeri-negeri yang lain.”*15)

Oleh karena itu kapan saja penduduk suatu negeri melihat hilal, maka wajib atas seluruh negeri berpuasa karena sabda Rasulullah Saw, “Puasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.” Ucapan ini umum mencakup seluruh ummat manusia. Jadi siapa saja dari mereka melihat hilal dimanapun tempatnya, maka ru’yat itu berlaku bagi mereka semuanya.*16)

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz menjelaskan masalah ini ketika ditanya apakah manusia harus berpuasa jika mathla’-nya berbeda? Beliau menjawab, yang benar adalah bersandar pada ru’yat dan tidak menganggap adanya perbedaan mathla’ karena Nabi Saw memerintahkan untuk bersandar dengan ru’yat dan tidak merinci pada masalah itu. Nabi n tidak mengisyaratkan kepada perbedaan mathla’ padahal beliau mengetahui hal itu.*17)

Imam ash-Shan’ani berkata, “Makna dari ucapan ‘karena melihatnya’ yaitu apabila ru’yat didapati diantara kalian. Hal ini menunjukkan bahwa ru’yat pada suatu negeri adalah ru’yat bagi semua penduduk negeri dan hukumnya wajib.”*18)

Shiddiq Hasan Khan berkata, “Apabila penduduk suatu negeri melihat hilal, maka seluruh negeri harus mengikutinya. Hal itu dari segi pengambilan dalil hadits-hadits yang jelas mengenai puasa, yaitu ‘karena melihat hilal dan berbuka karena hilal’ (Hadits Abu Hurairah dan lain-lain). Hadits-hadits tersebut berlaku untuk semua ummat, maka barangsiapa diantara mereka melihat hilal dimana saja tempatnya, jadilah ru’yat itu untuk semuanya…”*19)

Dr. Muhammad Husain Abdullah dalam kitabnya berkata, “Maka apabila melihat hilal ramadhan atau hilal syawal telah tetap melalui syara’, maka terikatlah kaum muslimin. Ya semua, dengan ru’yat ini dalam puasa dan hari raya mereka, tidak ada perbedaan antara satu negeri dan negeri yang lain…”*20)

Imam al-Mashfaqi menyatakan dalam kitabnya bahwa, “Perbedaan mathla’ tidak dapat dijadikan sebagai pegangan. Demikian pula melihat sabit disiang hari, sebelum dhuhur atau menjelang dhuhur. Dalam hal tersebut, penduduk negeri Timur Madinah harus mengikuti ru’yat kaum muslimin yang ada di belahan Barat Madinah apabila ru’yat mereka dapat diterima (sah menurut syara’).”*21)

Sedangkan Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa, berkata, “Orang-orang yang menyatakan bahwa ru’yat tidak digunakan bagi semuanya (negeri-negeri) seperti kebanyakan pengikut-pengikut madzhab Syafi’i, diantaranya mereka ada yang membatasi dengan jarak qashar shalat, ada yang membatasi dengan perbedaan mathla’ seperti Hijaz dengan Syam, Iraq dengan Khurasan, kedua-duanya lemah (dha’if) karena jarak qashar shalat tidak berkaitan dengan hilal…

Apabila seseorang menyaksikan pada malam ke 30 bulan Sya’ban di suatu tempat, dekat maupun jauh, maka wajib puasa. Demikian juga kalau menyaksikan hilal pada waktu siang menjelang maghrib maka harus imsak (berpuasa) untuk waktu yang tersisa, sama saja baik satu iklim atau banyak iklim.”*22)

Imam asy-Syaukani juga telah membantah pendapat-pendapat yang menyatakan bahwasanya ru’yah hilal berkaitan dengan jarak, iklim dan negeri dalam kitabnya.*23)

Ketiga, riwayat Kuraib tersebut merupakan ijtihad seorang sahabat. Atas dasar itu, ia tidak bisa digunakan sebagai dalil atau apa pun untuk mentakhshish (mengkhususkan) keumuman lafadz yang terdapat dalam hadist shûmû liru’yatihi. Sebab, yang bisa mentakhsis dalil syara’ harus dalil syara’ pula. Sehingga, hadist-hadist tersebut tetap dalam keumumannya. Sebagaimana kaidah ushul, al-‘âm yabqa fi ‘umûmihi ma lam yarid dalil at-takhsish (sebuah dalil yang bersifat umum tetap pada kemumumannya, selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya).*24)

Seandainya riwayat Kuraib tersebut absah digunakan sebagai dalil (hadits marfu’), maka berpegang kepada hadits yang diucapkan oleh Rasulullah Saw secara langsung (qâla Rasulullah Saw) lebih kuat dibandingkan dengan hadits yang dikatakan oleh seorang shahabat (misalnya, qâla Ibnu ‘Abbas). Imam al-Amidi mengatakan, “Hadits yang telah disepakati kemarfu’annya lebih dikuatkan daripada hadits yang masih diperselisihkan kemarfu’annya. Hadits yang dituturkan dengan lafadz asli dari Rasulullah Saw lebih dikuatkan daripada hadits yang diriwayatkan bil makna.”*25)

Keempat, penolakan Ibnu ‘Abbas ra terhadap ru’yatnya Mu’awiyyah bisa dipahami, bahwa arus informasi ru’yat saat itu memang tidak cepat tersiar ke negeri-negeri kaum Muslim yang lain. Ini bisa dimengerti karena, alat-alat transportasi dan telekomunikasi pada saat itu sangat terbatas dan lambat. Akibatnya, informasi ru’yat di satu daerah kadang-kadang baru sampai sehari atau lebih. Melihat kondisi ini, Rasulullah Saw dan para shahabat membiarkan daerah-daerah yang jauh untuk tidak terikat dengan hasil ru’yat penduduk Madinah maupun Mekah, maupun negeri-negeri yang lain, dikarenakan halangan-halangan jarak. Imam asy-Sya’rani menuturkan, “Para shahabat ra tidak memerintahkan suatu negeri untuk mengikuti hasil ru’yat penduduk Madinah, Syam, Mesir, Maghrib, dan sebagainya.”*26 Barangkali pendapat mereka disandarkan pada sebuah riwayat, “Penduduk Nejed telah memberitahu kepada Rasulullah Saw, bahwa ru’yat mereka lebih awal satu hari dibandingkan dengan ru’yat penduduk Madinah.” Lalu, Nabi Saw bersabda :

Setiap penduduk negeri terikat dengan ru’yat mereka sendiri-sendiri.”*27)

Hanya saja, hadits ini sama sekali tidak menunjukkan, bolehnya kaum Muslim bersikukuh dengan ru’yat masing-masing, atau untuk membenarkan mathla’. Hadits ini hanya merupakan solusi (pemecahan) yang diberikan oleh Rasulullah Saw tatkala kaum Muslim menghadapi kendali waktu dan jarak saat itu. Sebab, hadits-hadits yang lain justru menunjukkan, bahwa Rasulullah Saw membatalkan puasanya karena mendengar informasi ru’yat dari negeri lain; misalnya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Lima.

Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam mengomentari ucapan Sayyid Sabbiq yang mendukung pendapat yang mewajibkan ru’yat bagi setiap penduduk suatu negeri dan penentuan jarak dan tanda-tandanya mengatakan, “…Saya —demi Allah— tidak mengetahui apa yang menghalangi Sayyid Sabiq sehingga dia memilih pendapat yang syadz (ganjil) ini dan enggan mengambil keumuman hadits yang shahih dan merupakan pendapat jumhur ulama sebagaimana yang dia sebutkan sendiri. Pendapat ini juga telah dipilih oleh banyak kalangan ulama muhaqiqin seperti Ibnu Taimiyyah, di dalam al-Fatawa jilid 25, asy-Syaukani dalam Nailul Authar, Shiddiq Hasan Khan di dalam ar-Raudhah an-Nadiyah 1/224-225 dan selain mereka. Dan inilah yang benar. Pendapat ini tidak bertentangan dengan hadits Ibnu ‘Abbas (hadits Kuraib) karena beberapa perkara yang disebutkan asy-Syaukani rahimahullah. Kemungkinan yang lebih kuat untuk dikatakan adalah bahwa hadits Ibnu ‘Abbas tertuju bagi orang yang berpuasa berdasarkan ru’yat negerinya, kemudian sampai berita kepadanya pada pertengahan Ramadhan bahwa di negeri lain melihat hilal satu hari sebelumnya. Pada keadaan semacam ini beliau (Ibnu ‘Abbas) meneruskan puasanya bersama penduduk negerinya sampai sempurna 30 hari atau melihat hilal. Dengan demikian hilanglah kesulitan (pengkompromian dua hadits) tersebut sedangkan hadits Abu Harairah dan lain-lain tetap pada keumumannya, mencakup setiap orang yang sampai kepadanya ru’yat hilal dari negeri mana saja tanpa adanya batasan jarak sama sekali, sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu Taimiyah di dalam al-Fatawa 25/107…”*28)

Kelima, selain itu ijtihad Ibnu ‘Abbas ra. di atas bertentangan dengan makna yang sharih (eksplisit) hadits yang diriwayatkan dari sekelompok sahabat Anshor :

Hilal bulan Syawal tertutup oleh mendung bagi kami sehingga kami tetap berpuasa pada keesokan harinya. Menjelang sore hari datanglah beberapa musafir dari Mekkah ke Madinah. Mereka memberikan kesaksian di hadapan Nabi Saw bahwa mereka telah melihat hilal kemarin (sore). Maka Rasulullah Saw memerintahkan mereka (kaum Muslimin) untuk segera berbuka dan melaksanakan sholat ‘Ied pada keesokan harinya.”*29)

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah Saw memerintahkan kaum muslimin untuk membatalkan puasa setelah mendengar informasi ru’yatul hilal bulan Syawal dari beberapa orang yang berada di luar Madinah al-Munawarah. Peristiwa itu terjadi ketika ada serombongan orang dari luar Madinah yang memberitakan bahwa mereka telah melihat hilal Syawal di suatu tempat di luar Madinah al-Munawarah sehari sebelum mereka sampai di Madinah. Kebolehan mathla’ juga akan bertentangan dengan riwayat dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas sendiri :

“Telah datang seorang Arab Badui kepada Nabi Muhammad Saw kemudian berkata, ‘Sungguh saya telah melihat hilal.’ Rasulullah bertanya, ‘Apakah anda bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah?’ Dia menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah bertanya lagi, ‘Apakah Anda bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah?’ Orang tersebut menjawab, ‘Ya.’ Lalu Rasulullah bersabda, ‘Wahai Bilal umumkan kepada manusia (masyarakat) agar mereka berpuasa besok’.”*30)

Keenam, perbedaan mathla’ secara ‘aqli pun akan sangat janggal. Daerah yang terletak dalam satu bujur harusnya bisa memulai dalam waktu yang sama. Sebab, daerah yang terletak sebujur, sejauh apapun jaraknya tidak akan berbeda atau berselisih waktu. Namun, faktanya dengan adanya negara-negara bangsa, daerah-daerah yang terletak satu bujur memulai puasa tidaklah serentak, padahal secara astronomi harusnya bisa memulai puasa secara bersamaan. Selain itu, daerah yang terletak beda bujur, selisih waktu terjauh tidak sampai sehari. Jika demikian, tidak mungkin ada selisih waktu lebih dari sehari. Adanya mathla’ memungkin suatu daerah berbeda dengan daerah lain, meskipun secara astronomi harusnya tidak terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat dalam memulai atau mengakhiri puasa Ramadhan. Kenyataan seperti ini mengharuskan kita meninggalkan mathla’.

Ketujuh, dengan memperhatikan persatuan dan kesatuan ummat Islam seluruh dunia, kaum muslimin akan lebih arif memilih pendapat untuk serentak melakukan puasa Ramadhan di seluruh dunia. Harapannya, langkah semacam ini merupakan titik awal menuju persatuan ummat Islam seluruh dunia.

Dalam sejarah pernah dituturkan, bahwa para khalifah dari Dinasti ‘Utsmaniyyah telah mengadopsi pendapat madzhab Hanafi yang menyatakan, “Perbedaan mathla’ tidak diakui. Penduduk timur wajib terikat dengan hasil ru’yat penduduk barat, jika ru’yat berhasil mereka tetapkan berdasarkan cara-cara yang telah ditentukan.”*31)

3. Bagaimana Bila Ru’yat Bertentangan dengan Hisab ?

Ketika kita mendengar informasi ru’yat, tidak jarang diantara kaum muslim menolak berita tersebut dengan alasan: secara astronomi bulan tidak mungkin wujud atau muncul di daerah tersebut. Atas dasar itu, mereka menyatakan bahwa hasil ru’yat semacam itu wajib ditolak oleh kaum muslim. Sebab, secara astronomi (ilmu falak) bulan belum mungkin terlihat atau wujud di daerah tersebut. Padahal penentuan awal Ramadhan, Idul Fithri dan Idul Ahda tidak pernah Rasulullah Saw menentukannya berdasarkan hisab. Bukan karena di zaman itu tidak ada ilmu hisab, tapi karena memang itulah yang dijadikan ajaran Islam, dan itulah yang dikehendak Allah.

Sehingga untuk menentukan permulaan bulan Ramadhan diperintahkan untuk melihat hilal, dan itulah satu-satunya cara yang disyariatkan dalam Islam sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam an-Nawawi,*32) Ibnu Qudamah,*33) dan al-Mundzir.*34)

Syaikh al-Utsaimin berkata, “Sesungguhnya Nabi Saw menggantungkan perkara puasa dan Ied (fithri) dengan sesuatu yang tampak. Sehingga manusia dapat mengetahui secara jelas urusan mereka. Yaitu dengan melihat hilal bulan, atau menyempurnakan bilangan bulan yang lalu 30 hari. Karena tidak mungkin lebih dari 30 hari. Rasulullah Saw telah memerintahkan umatnya untuk puasa bila melihat hilal Ramadhan, dan memerintahkan berbuka (Iedul Fithri) bila melihat hilal Syawal. Jika ada halangan melihatnya karena mendung atau sejenisnya, maka mereka menyempurnakan jumlah bulan terdahulu (yaitu) 30 hari, karena pada asalnya demikian, sehingga tidak dihukumi keluar dari bulan tersebut kecuali dengan keyakinan.”*35)

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Saya melihat manusia di bulan puasa dan bulan lainnya, mereka ada yang mendengarkan orang tak berilmu dari kalangan ahli hisab bahwa hilal dilihat atau tidak dilihat. Sampai-sampai, di antara hakim ada yang menolak persaksian beberapa orang yang adil karena mengikuti ahli hisab yang bodoh dan berdusta bahwa hilal dilihat atau tidak dilihat. Di antara mereka ada juga yang tidak menerima ucapan ahli hisab bintang baik lahir maupun batin. Akan tetapi dalam hatinya punya syubhat yang banyak karena mempercayainya. Sesungguhnya kami sudah mengetaui dengan pasti bahwa termasuk dalam agama Islam beramal dengan melihat hilal puasa, haji, atau iddah (masa menunggu), atau yang lainnya dari hukum-hukum yang berhubungan dengan hilal. Adapun pengambilannya dengan cara mengambil berita orang yang menghitungnya dengan hisab, baik dia melihatnya atau tidak, maka tidak boleh.”*36)

Sedangkan sekarang muncul masalah bersandar dengan hisab dalam hal ini baru terjadi pada sebagian ulama setelah tahun 300-an. Mereka mengatakan bahwa jikalau terjadi mendung (sehingga hilal tertutup) boleh bagi orang yang mampu menghitung hisab untuk beramal dengan hisabnya itu hanya untuk dirinya sendiri. Jika hisab itu menunjukkan ru’yat, maka dia berpuasa, dan jika tidak, maka tidak boleh.*37)

Pendapat semacam di atas harus ditolak, bahkan telah bertentangan dengan nash-nash syara’. Pertama, metode syar’i untuk menetapkan awal dan akhir Ramadhan adalah ru’yat (observasi mata secara langsung), bukan hisab. Di sisi lain, syara’ telah menetapkan bahwa kesaksian dalam masalah ru’yatul hilal cukup dilakukan oleh seorang yang adil. Ini didasarkan pada sebuah riwayat berikut. Telah diriwayatkan dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Ada seorang Arab mendatangi Rasulullah Saw dan berkata, ‘Aku telah melihat bulan (hilal), yakni bulan Ramadhan.’ Kemudian Rasulullah Saw bertanya, ‘Apakah engkau telah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah?’ Laki-laki itu menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah bertanya lagi, ‘Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad itu Rasulullah?’ Laki-laki itu menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah Saw bersabda, ‘Wahai Bilal, berdirilah dan kumandangkan azan, dan beritahukanlah agar mereka (kaum Muslim) puasa besok’.”*38)

Untuk itu, penetapan awal dan akhir Ramadhan harus ditetapkan berdasarkan kesaksian seorang saksi yang adil. Seseorang tidak boleh memberikan kesaksian kecuali kesaksiannya itu didasarkan pada sesuatu yang menyakinkan. Kesaksian tidak sah, jika dibangun di atas dzan (keraguan).*39) Sebab, Rasulullah Saw telah bersabda kepada para saksi :

Jika kalian melihatnya seperti kalian melihat matahari, maka bersaksilah. (Namun) jika tidak, maka tinggalkanlah.”*40)

Puasalah kalian karena melihat hilal, berbukalah karena melihatnya, berhajilah karena melihatnya, jika kalian tertutup mendung sempurnakanlah tiga puluh hari, jika ada dua saksi berpuasalah kalian dan berbukalah.”*41)

Manusia mencari-cari hilal, maka aku kabarkan kepada Nabi Saw bahwa aku melihatnya, Rasulullah Saw pun menyuruh manusia berpuasa.”*42)

Puasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. Jika dua orang saksi mempersaksikan (ru’yat hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya.”*43)

Berdasarkan hadits-hadits di atas kita bisa menyimpulkan bahwa penetapan awal dan akhir Ramadhan harus ditetapkan berdasarkan bukti-bukti syar’i. Allah SWT tidak memerintahkan kita untuk mengawali dan mengakhiri Ramadhan dengan bukti-bukti astronomis. Untuk itu, hasil pantuan bulan yang didasarkan pada hisab tidak boleh dijadikan sebagai bukti untuk memberikan kesaksian. Sebab, ahli hisab tidak menyandarkan kesaksiannya pada sesuatu yang bersifat pasti, atau melakukan observasi secara langsung (melihat). Untuk itu, mereka tidak boleh memberikan kesaksiannya tentang ru’yatul hilal. Hanya orang yang menyaksikan secara langsung saja yang boleh memberikan kesaksiannya. Ini didasarkan pada sabda Rasulullah Saw, “Jika kalian melihatnya seperti melihat matahari, maka bersaksilah, jika tidak tinggalkanlah.

Pada dasarnya ahli hisab tidak menyaksikan bulan secara langsung. Ia hanya menyandarkan pada perhitungan-perhitungan yang bersifat dzanniyyah. Sebab, meskipun mereka mengklaim perhitungan hisabnya memiliki akurasi yang tinggi, akan tetapi tetap saja tidak menyakinkan (absolut). Lebih-lebih lagi ilmu hisab tidak bisa memprediksi cuaca yang ada di daerah itu. Untuk itu, ia tidak bisa memastikan bahwa bulan bisa terlihat atau tidak, bila dikaitkan dengan cuaca.

Kesaksian orang yang melihat hilal tidak bisa digugurkan oleh perhitungan ahli hisab. Kesaksian seseorang akan gugur, jika syarat-syarat kesaksian tidak terpenuhi. Misalnya, yang bersaksi tidak adil dan terkenal ketidakjujurannya. Dalam kondisi semacam ini, kesaksiannya bisa gugur.

Walhasil, kesaksian ru’yat yang dibawa oleh seorang yang adil tidak bisa digugurkan dengan perhitungan ahli hisab.

Kedua, Rasulullah Saw sendiri tidak meminta kita untuk memastikan apakah bulan sudah wujud atau tidak pada saat itu —berdasarkan perhitungan astronomi. Rasulullah Saw hanya memerintahkan kaum muslim untuk ru’yatul hilal (memantau bulan). Rasulullah Saw bersabda :

Berpuasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal), maka apabila mendung (menutupi) kalian maka sempurnakanlah hitungan menjadi tiga puluh hari.” [HR. an-Nasa’i].

Hadits ini dengan sangat jelas memberikan pengertian, bahwa walaupun bulan sudah wujud —memenuhi parameter-parameter astronomi—, akan tetapi jika terhalang mendung, maka kita harus menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Seandainya hisab bisa dijadikan bayyinah (bukti), tentunya faktor mendung yang menghalangi tidak lagi relevan. Sebab, sesungguhnya bulan sudah wujud dan mungkin untuk dilihat pada saat itu —berdasarkan prinsip astronomi. Akan tetapi karena bulan tersebut terhalang mendung, maka puasa tetap tidak boleh dilakukan. Ini menunjukkan bahwa, sekiranya perhitungan astronomi sudah menetapkan bahwa bulan telah wujud dan mungkin dilihat di suatu daerah, tidak secara otomatis, saat itu juga kaum muslim harus sudah memulai melakukan ibadah puasa. Sebab, bisa saja daerah tersebut tertutup mendung tebal yang menghalangi proses ru’yat. Meskipun secara astronomi bulan sudah terlihat, namun tidak secara otomatis kaum muslim harus memulai bulan Ramadhan pada hari itu juga. Sebab, bisa jadi penglihatannya terhalang oleh mendung. Ketika di daerah itu terhalang mendung, maka kaum muslim tetap harus menyempurnakan bulan sya’ban menjadi 30 hari.

Ini semakin menguatkan, bahwa hisab tidak bisa membatalkan ru’yat. Ru’yat hanya akan gugur, jika kesaksiannya dilakukan oleh orang-orang yang tidak adil.

Terakhir, perhatikan ucapan Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah, “Dan orang yang berpijak pada hisab dalam (menentukan) hilal, sebagaimana ia sesat dalam syariat, iapun telah berbuat bid’ah dalam agama, dia telah salah dalam hal akal dan ilmu hisab.”*44)

4. Pendapat yang Rajih

Pendapat yang rajih (kuat) dan lebih dekat kepada al-Qur’an dan as-Sunnah mengenai penetapan awal adan akhir Ramadhan adalah ru’yat yang berlaku untuk seluruh kaum muslimin di dunia (mathla’ universal).

Namun demikian, perbedaan pendapat ini tidak akan pernah terselesaikan dengan tuntas, sebelum ada pihak yang berfungsi sebagai badan itsbat bagi seluruh kaum muslimin. Badan itsbat itulah yang akan berfungsi sebagai penengah perbedaan pendapat di kalangan kaum muslim. Badan yang berhak menetapkan masalah ini adalah pemimpin seluruh kaum muslim. Atas dasar itu, adanya pemimpin seluruh kaum muslimin yang berfungsi untuk menyelesaikan perbedaan pendapat di antara mereka menjadi angat urgen. Bahkan institusi inilah yang dapat menyatukan seluruh kaum muslimin, dan meniadakan perselisihan diantara ummat Islam.

Bila kita melongok sejarah ummat Islam, kita akan berkesimpulan bahwa institusi Islami yang bisa menuntaskan perbedaan yang terjadi diantara kaum muslimin adalah Khilafah Islamiyyah. Maka di sini peran penguasa yang “keputusannya mampu menghentikan perbedaan” sangat dinanti-nanti. Kaidah ushul menyatakan, Amrul Imam yarfa’ul khilafPerintah Imam (pemimpin) menghilangkan khilafiyyah (pertentangan)”. Nantinya, penguasa ini, yang dalam Fiqh Siyasah disebut Khalifah, berkewajiban mengadopsi (tabbani) sejumlah hal, misalnya:

1. Landasan syar’i ru’yat dan ru’yat global;

2. Salah satu metode hisab yang terbukti akurat;

3. Salah satu kriteria imkanur;

4. Syarat-syarat ru’yat yang dapat diterima;

5. Solusi untuk masalah zone dalam ru’yat global;

6. Metode penyebaran informasi ru’yat;

7. Pemberlakuan hari ibadah dan sanksinya.

Namun yang jelas untuk menuju ke arah itu, institusi khilafah sendiri harus diperjuangkan dulu. Nantinya institusi ini tidak hanya akan menyeragamkan saat-saat ibadah kaum muslimin, namun juga menjawab ribuan masalah kaum muslimin di dunia saat ini, dan sekaligus memberikan solusi problematika dunia yang adil dan penuh rahmat bagi seluruh alam. Wallahu al-Hâdiy al-Muwaffiq ila Aqwâm ath-Thâriq.

Artikel lainnya mengenai penetapan awal dan akhir Ramadhan dapat juga dilihat di :

http://muslimabipraya.wordpress.com/2008/08/19/aspek-syari-dan-iptek-dalam-penentuan-awal-dan-akhir-ramadhan/

http://cis-saksono.blogspot.com/2008/07/analisis-awal-ramadan-syawal-1429h.html

 

[*Syabab Hizbut Tahrir Australia]

Catatan Kaki:

1. Dr. Muhammad Husain Abdullah, al-Wadhih fi Ushul al-Fiqh, hal. 318.

2. HR. Bukhari 4/106 dan Muslim 1081, dari Abu Hurairah ra.

3. HR. Bukhari 4/102 dan Muslim 1080, dari Abdullah bin Umar ra.

4. HR. Abu Dawud 2327, an-Nasa’i 1/302, at-Tirmidzi 1/133, al-Hakim 1/425, dan di shahih kan sanadnya oleh al-Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi.

5. HR. an-Nasa’i 4/132, Ahmad 4/321, ad-Daruquthni, 2/167, dari Abdurrahman bin Zaid bin al-Khattab dari sahabat-sahabat Rasulullah, sanadnya hasan. Demikian keterangan Syaikh Salim al-Hilali serta Syaikh Ali Hasan. Lihat Sifatus Shaum Nabi Saw fî Ramadhan, hal. 29.

6. HR. Bukhari 4/106 dan Muslim 1081, dari Abu Hurairah ra.

7. HR. Abu Dawud 2327, an-Nasa’i 1/302, at-Tirmidzi 1/133, al-Hakim 1/425, dan di-shahih-kan sanadnya oleh al-Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi.

8. HR. Bukhari 4/106 dan Muslim 1081, dari Abu Hurairah ra.

9. Syarah Shahih Muslim, jld. 7I, hal. 192.

10. Fath al-Bârî Bisyarhi Shahih al-Bukhari, jld. 5, hal. 126-127.

11. Syaikh Abdurahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘Ala al-Madzhahib al-Arba’ ah, jld. 1, hal. 550.

12. HR. Muslim 1087, at-Tirmidzi 647 dan Abu Dawud 1021. Riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi 1/213.

13. HR. Bukhari 4/106 dan Muslim 1081, dari Abu Hurairah ra.

14. Imam asy-Syaukani, Nailul Authar, hal. 254-255.

15. Lihat pula pendapat Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fâth al-Bârî; Bab Shiyâm.

16. Sayyid Sabbiq, Fiqh as-Sunnah, jld. 1, hal. 368.

17. Tuhfatul Ikhwan, hal. 163.

18. Subulus Salam, jld. 2, hal. 310.

19. Ar-Raudhah an-Nadiyah, jld. 1, hal. 146.

20. Dr. Muhammad Husain Abdullah, Mafahim Islamiyah, jld. 2, bab 24.

21. Ad-Durul Mukhtar wa Raddu Mukhtar, jld. 2, hal. 131-132.

22. Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, jld. 25, hal. 104-105.

23. Nailul Authar, jld. 4, hal. 195.

24. Dr. Muhammad Husain Abdullah, al-Wadhih fi Ushul al-Fiqh, hal. 318.

25. Imam al-Amidi, al-Ihkâm fi Ushûl al-Ahkâm, jld. 2, hal. 364.

26. Imam asy-Sya’rani, Kasyf al-Ghummah ‘An Jamî’ al-Ummah, jld. 1, hal. 250.

27. Musnad Imam Ahmad, 6/18917.

28. Syaikh Nashiruddin al-Albani, Tamamul Minnah, hal. 397-398.

29. HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah, di-shahih-kan oleh Ibnu Mundir dan Ibnu Hazm.

30. HR. Imam yang lima, kecuali Ahmad, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hiban. Lihat Imam asy-Saukani, Nailul Authar, jld. 4, Kitab ash-Shiyam, bab Mâ Yatsbutu bihish Shaumu wal Fithru minasy Syuhud, hadits no. 2.

31. al-Darr al-Mukhtâr wa Radd al-Muhtâr, jld. 2, hal. 131-132.

32. al-Majmu’, jld. 6, hal. 289-290.

33. al-Mughni, jld. 3, hal. 27.

34. Lihat Fath al-Bârî, jld. 4, hal. 123, karya Imam Ibnu Hajar.

35. Syaikh al-Utsaimin, Tambih al-Afhâm bi Syarhi Umdah al-Ahkâm, jld. 3, hal. 35.

36. Lihat Majmu’ al-Fatawa, jld. 25, hal. 132, karya Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah.

37. Idem., jld. 25, hal. 133.

38. HR. Imam yang lima, kecuali Ahmad, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hiban. Lihat Imam asy-Saukani, Nailul Authar, jld. 4, Kitab ash-Shiyam, bab Mâ Yatsbutu bihish Shaumu wal Fithru minasy Syuhud, hadits no. 2.

39. Sayyid Sabbiq, Fiqh as-Sunnah, (terj), hal. 48.

40. Syaikh Ahmad ad-Da’ur, al-Ahkâm al-Bayyinât, hal. 6.

41. HR. an-Nasa’i 4/133, Ahmad 4/321, ad-Daruquthni 2/167 dan dari jalan Husain bin al-Harits al-Jadali dari Abdur Rahman bin Zaid bin al-Khaththab dari para shahabat Rasulullah Saw sanadnya hasan, lafadz di atas dalam riwayat an-Nasa’i, Imam Ahmad menambahkan: “dua orang muslim”.

42. HR. Abu Dawud 2342, ad-Darimi 2/4, Ibnu Hibban 871, al-Hakim 1/423, al-Baihaqi 4/212 dari dua jalan dari Yahya bin Abdullah bin Salim dari Abu Bakar bin Nafi’ dari bapaknya dari Ibnu Umar sanadnya hasan sebagaimana dikatakan Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam at-Talkhisul Habir 2/187.

43. HR. an-Nasa’i 4/132, Ahmad 4/321, ad-Daruquthni, 2/167, dari Abdurrahman bin Zaid bin al-Khattab dari sahabat-sahabat Rasulullah, sanadnya hasan. Demikian keterangan Syaikh Salim al-Hilali serta Syaikh Ali Hasan. Lihat Sifatus Shaum Nabi Saw fî Ramadhan, hal. 29.

44. Majmu’ al-Fatawa, 25/207.

(Artikel ditulis oleh : M. Ramadhan al-Muhtasib*)


Aksi

Information

2 responses

29 08 2008
eshape

Sebuah artikel yang sangat lengkap.

Salut.

Semoga tetap dapat menjaga semangat untuk selalu berbagi di manapun berada. Amin.

Salam dan kompak selalu.

eshape

2 09 2008
Beni

Terima kasih atas pencerahannya

Saya tunggu artikel-artikel yg lain.

Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s