Hari Kasih Sayang – Valentine’s Day dalam Tinjauan Syariat Islam

15 02 2008

Valentine’s Day sebenarnya, bersumber dari paganisme orang musyrik, penyembahan berhala dan penghormatan pada pastor kuffar. Bahkan tak ada kaitannya dengan “kasih sayang”, lalu kenapa kita masih juga menyambut Hari Valentine? Adakah ia merupakan hari yang istimewa? Adat? Atau hanya ikut-ikutan semata tanpa tahu asal muasalnya?

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabannya” (Al Isra’ : 36).

Baca entri selengkapnya »

Iklan




Antara Ridha dan Pasrah

26 12 2007

Ridha berasal dari kata radhiya-yardha yang berarti menerima suatu perkara dengan lapang dada tanpa merasa kecewa ataupun tertekan. Sedangkan menurut istilah, ridha berkaitan dengan perkara keimanan yang terbagi menjadi dua macam. Yaitu, ridha Allah kepada hamba-Nya dan ridha hamba kepada Allah (Al-Mausu’ah Al-Islamiyyah Al-‘Ammah: 698). Ini sebagaimana diisyaratkan Allah dalam firman-Nya, ”Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS 98: 8).

Ridha Allah kepada hamba-Nya adalah berupa tambahan kenikmatan, pahala, dan ditinggikan derajat kemuliaannya. Sedangkan ridha seorang hamba kepada Allah mempunyai arti menerima dengan sepenuh hati aturan dan ketetapan Allah. Menerima aturan Allah ialah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun menerima ketetapannya adalah dengan cara bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika ditimpa musibah.

Dari definisi ridha tersebut terkandung isyarat bahwa ridha bukan berarti menerima begitu saja segala hal yang menimpa kita tanpa ada usaha sedikit pun untuk mengubahnya. Ridha tidak sama dengan pasrah. Ketika sesuatu yang tidak diinginkan datang menimpa, kita dituntut untuk ridha. Dalam artian kita meyakini bahwa apa yang telah menimpa kita itu adalah takdir yang telah Allah tetapkan, namun kita tetap dituntut untuk berusaha. Allah berfirman, ”Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS 13: 11).

Hal ini berarti ridha menuntut adanya usaha aktif. Berbeda dengan sikap pasrah yang menerima kenyataan begitu saja tanpa ada usaha untuk mengubahnya. Walaupun di dalam ridha terdapat makna yang hampir sama dengan pasrah yaitu menerima dengan lapang dada suatu perkara, namun di sana dituntut adanya usaha untuk mencapai suatu target yang diinginkan atau mengubah kondisi yang ada sekiranya itu perkara yang pahit. Karena ridha terhadap aturan Allah seperti perintah mengeluarkan zakat, misalnya, bukan berarti hanya mengakui itu adalah aturan Allah melainkan disertai dengan usaha untuk menunaikannya.

Begitu juga ridha terhadap takdir Allah yang buruk seperti sakit adalah dengan berusaha mencari takdir Allah yang lain, yaitu berobat. Seperti yang dilakukan Khalifah Umar bin Khathab ketika ia lari mencari tempat berteduh dari hujan deras yang turun ketika itu. Ia ditanya, ”Mengapa engkau lari dari takdir Allah, wahai Umar?” Umar menjawab, ”Saya lari dari takdir Allah yang satu ke takdir Allah yang lain.”

Dengan demikian, tampaklah perbedaan antara makna ridha dan pasrah, yang kebanyakan orang belum mengetahuinya. Dan itu bisa mengakibatkan salah persepsi maupun aplikasi terhadap makna ayat-ayat yang memerintahkan untuk bersikap ridha terhadap segala yang Allah tetapkan. Dengan kata lain pasrah akan melahirkan sikap fatalisme. Sedangkan ridha justru mengajak orang untuk optimistis.

Wallahu a’lam.





Penyakit Umat

11 12 2007

Oleh : Admin

Rasulullah adalah seorang pemimpin dan teladan terbaik yang sangat mencintai dan menyayangi umat yang dipimpinnya. Kecintaan dan kasih sayang beliau kepada umatnya ditunjukkan dalam setiap gerak langkah kehidupannya. Bahkan, ketika menghadapi sakaratul maut yang dahsyat pun, beliau masih mengkhawatirkan umatnya dengan berkata, ”Umatku, umatku, umatku ….”

Salah satu wujud kesayangan dan kecintaan Rasulullah kepada umatnya adalah pesan beliau dalam sabdanya, ”Hal-hal yang paling aku khawatirkan melanda umatku ialah besar perut, banyak tidur, pemalas, dan lemah keyakinan.” (HR Daruquthni dari Jabir).

Hadis di atas merupakan kekhawatiran Rasulullah akan penyakit-penyakit yang dapat menjangkiti umatnya dan menyebabkan umat ini menjadi umat yang kalah dan tidak memiliki kehormatan. Penyakit-penyakit tersebut sejatinya menjadi perhatian dan kewaspadaan kita sebagai umat Islam.

Penyakit pertama, besar perut. Besar perut artinya lebih mementingkan urusan perut dan keduniawian. Orang yang terjangkit penyakit seperti ini tidak segan-segan menghalalkan segala cara untuk memperoleh apa yang diinginkannya. Dan, jika umat telah terjangkit penyakit ini, niscaya akan hilanglah kehormatan umat dan akan mengundang datangnya azab yang dahsyat.

Untuk itu, Allah memberikan petunjuk beharga bagi kita bahwa kesenangan dan kehidupan dunia adalah sementara dan tidak kekal. Akhiratlah tempat yang paling kekal. Allah SWT berfirman, ”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka, tidakkah kamu memahaminya?” (QS 6:32).

Kedua, banyak tidur. Penyakit ini menyebabkan orang kehilangan produktivitasnya dalam bekerja. Selain itu, bahaya yang paling utama adalah orang-orang tersebut dapat meninggalkan kewajibannya dalam beribadah. Padahal, Rasulullah, para sahabat, dan orang-orang saleh selalu mencontohkan untuk menyedikitkan tidur dan meraih keutamaan ibadah pada sepertiga malam terakhir.

Firman Allah SWT, ”Hai orang yang berselimut, bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Alquran itu dengan perlahan-lahan.” (QS 73:1-4).

Ketiga, malas. Malas menyebabkan seseorang kehilangan kreativitasnya dan membuang-buang waktu secara percuma. Jika umat terjangkit penyakit ini, maka kehancuran dan kemunduran umat Islam adalah keniscayaan.

Keempat, lemah keyakinan. Penyakit ini menyebabkan seseorang tidak memiliki pendirian yang tetap. Jika umat terjangkit penyakit ini, maka umat akan sangat mudah diprovokasi dan diadu domba oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Uraian di atas menjelaskan betapa bahayanya penyakit-penyakit tersebut bagi kelangsungan dan kejayaan umat Islam di masa mendatang. Karenanya, mari semua komponen umat untuk saling mengingatkan agar semuanya terhindar dari penyakit-penyakit yang dikhawatirkan Rasulullah. Wallahu a’lam.





Menjauhi Syirik

11 12 2007

santet.jpg 

Oleh : Admin

Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai bahaya syirik yang merupakan dosa paling berat di antara dosa-dosa besar lainnya. “Perhatikanlah, aku sampaikan kepada kalian dosa besar yang paling berat! (beliau mengulangnya sampai tiga kali). Yaitu syirik (menyekutukan Alah), menentang kedua orang tua, dan membuat kesaksian palsu atau perkataan palsu.” (HR Muslim).

Dalam Alquran (An-Nisa 48 dan 116) dinyatakan bahwa Allah SWT tidak akan mengampuni dosa akibat syirik, tetapi mungkin mengampuni dosa lain bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Masalah dosa itu sendiri dalam ajaran Islam dapat dikelompokkan dalam tiga kategori: dosa besar yang tidak terampuni, dosa besar yang masih dapat diampuni, dan dosa kecil yang dapat terhapus karena rajin beribadah dan banyak berbuat kebajikan. Syirik merupakan dosa yang tidak terampuni. Karena itu, Lukman Hakim berwasiat kepada anaknya, “Hai anakku, janganlah engkau menyamakan (persekutukan) yang lain dengan Allah. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang terbesar.” (Lukman 13).

Alquran lebih jauh mengingatkan, syirik pasti akan menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan yang tidak ada ujungnya. “Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (An-Nisa 116). Kemusyrikan menampilkan corak yang beragam di setiap zaman. Syirik dalam bentuk penyembahan kepada ‘tuhan’ selain Allah, atau meyakini bahwa benda dan manusia mempunyai sifat ketuhanan lebih banyak dijumpai pada individu dan masyarakat yang belum disentuh ajaran Islam. Sedangkan kini, fenomena kemusyrikan yang cukup banyak ditemukan di masyarakat adalah mempercayai keterangan-keterangan gaib atau mistik, praktik perdukunan, klenik, jimat (penangkal), dan sejenisnya. Dalam hal ini, Islam memandang bahwa semua itu merupakan perbuatan syirik, dan karenanya harus dijauhi oleh setiap Muslim.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa datang kepada peramal (dukun, paranormal), lalu menanyakan sesuatu kepadanya dan mempercayainya, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari.” (HR Muslim). Dalam hadis lain disebutkan, “Barang siapa memakai jimat, maka sesungguhnya dia telah syirik.” (HR Ahmad). Fenomena kemusyrikan pada manusia modern tidak mesti selalu dikaitkan dengan perbuatan ritual sebagaimana dalam tradisi paganisme.

Menurut ulama kontemporer Syekh Muhammad Al-Ghazali, jika seseorang lebih mencintai yang lain daripada mencintai Allah, lebih menakuti sesama manusia daripada takut kepada Allah, hatinya lebih terpaut kepada manusia daripada terpaut kepada Allah, apabila perbuatan yang dikerjakannya lebih mengharapkan keridhaan manusia daripada mengharapkan pahala akhirat, apabila ditimpa sesuatu musibah maka ingatannya kepada manusia lebih dulu daripada kepada Allah, selanjutnya bila mendapat kebaikan puji-pujiannya kepada manusia lebih cepat daripada kesyukurannya kepada Allah, maka ketahuilah orang itu telah jatuh dalam kemusyrikan. Wallahu a’lam bis-shawab.





Menjadi Umat yang Berdzikir

10 12 2007

dzikir.jpg

Oleh : Admin

”Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah (dzikrullah). Ketahuilah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Al-Ra’d: 28)

Dalam salah sebuah hadis diceritakan bahwa suatu saat Rasulullah SAW bersabda, ”Wahai para sahabat-sahabatku, maukah aku beri tahukan kepada kalian suatu bentuk amal yang paling baik, paling diridlai Tuhan kalian, paling tinggi nilainya, paling baik dibanding ketika kalian memberikan emas atau perak kepada orang lain, dan paling baik ketimbang ketika kalian bertemu dengan musuh-musuh kalian dalam perang yang konsekuensinya membunuh atau terbunuh musuh?” Dengan serentak, para sahabat menjawab, ”Baik ya Rasulullah.” Setelah diam sebentar, Nabi SAW berkata, ”Dzikrullah (mengingat Allah)”. (HR Ibnu Majah dari Abu al-Darda).

Menurut bahasa, dzikir berarti ”mengingat”. Dzikrullah berarti mengingat Allah SWT. Sebagai sarana mengingat Allah SWT, Rasulullah SAW dalam banyak hadisnya mengajarkan bentuk-bentuk dzikir. ”Sesungguhnya, bentuk dzikir yang paling utama di sisi Allah adalah mengucapkan kalimat tauhid, la ilaha illa Allah (tiada Tuhan selain Allah).” (HR Ibnu Majah dari Jabir bin Abdullah).

Kalimat tauhid menjadi dzikir yang paling utama karena beberapa sebab. Pertama, dzikir ini adalah bentuk pernyataan tinggi bahwa hanya Allah-lah Tuhan satu-satunya, tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan, ”Katakanlah: Allah itu esa. Tuhan yang segala sesuatu di jagat raya ini bergantung kepada-Nya.” (Al-Ikhlas: 1-2).

Ketika seseorang sudah menyatakan hal itu, artinya ia telah menyatakan diri secara totalitas bahwa hanya Allah-lah Tuhan yang menjadi tumpuan segala-galanya.

Kedua, orang yang membaca kalimat itu secara tulus ikhlas, Allah SWT menjamin akan diampuni segala dosa-dosa yang telah dilakukannya. ”Allah akan mengampuni dosa orang-orang yang meninggal dalam keadaan berdzikir secara tulus dari lubuk hati terdalamnya, lalu mengucapkan kalimat la ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah.” (HR Ibnu Majah dari Muadz bin Jabal).

Berdzikir adalah salah satu ciri khas orang-orang beriman, yang mesti dilakukan setiap saat dan di manapun berada. Dengan berdzikir, segala tindak-tanduk laku hidupnya akan selalu terkontrol. Tidak mudah terbawa arus, apalagi goyah keyakinan. Berdzikir memiliki nilai tinggi di sisi Allah SWT.

”Para malaikat akan menaungi orang-orang yang berdzikir bersama dalam satu majelis, selain itu, mereka akan dilingkupi oleh rahmat Tuhan, sehingga hati mereka menjadi tenang. Lebih tinggi dari itu, Allah SWT akan selalu mengingatnya.” (HR Ibnu Majah dari Abu Hurairah dan Abu Said al-Khudriy).

Allah SWT sangat mencintai orang-orang yang berdzikir mengingat-Nya. Jika Allah SWT sudah mencintai, maka segala kebutuhan mereka akan dipenuhi. Hidupnya selalu dalam lindungan dan kasih sayang-Nya yang tak terhingga. Maka tidak ada alasan bagi seorang beriman untuk tidak berdzikir. Persoalan hidup dan kehidupan yang pelik dan rumit, jika tidak karena kasih sayang Allah SWT, mustahil itu semua terpecahkan. Menjadi umat yang berdzikir, adalah salah satu upaya meraih cinta Ilahi.





Hukum Mengucapkan Selamat Natal

5 12 2007

Oleh : Indra Darma 

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Kepada saudara Kita yang terhormat,
Mengucapkan “Selamat Natal” sudah ditentukan haram oleh sebagian besar ulama di manca negara dengan alasan yang sama. Dalam perkara ini, memang Ada yang menyatakan boleh. Tetapi sebaiknya Kita sangat berhati-hati terhadap orang kafir Dan agama mereka. Kalau Ada sebagian kecil ulama yang menyatakan boleh maka sebaiknya Kita mencaritahu terlebih dahulu tentang siapa diri mereka Dan argumentasinya seperti apa. Ini disebabkan kenyataan bahwa Ada orang yang bersifat sangat liberal sekarang Dan inginkan supaya Islam menjadi lemah, pluralis, terbuka Dan mudah diterima di negara barat. Contoh dari Nabi (saw.) tidak selalu menjadi patokan bagi mereka.
Keyakinan sebagian orang bahwa perkara ini tergantung niat Kita adalah pendapat yang agak keliru. Justru salah satu fungsi dari ulama adalah memberikan Kita fatwa berkaitan dengan hal seperti ini supaya Kita tidak menjadi kaum yang sesat. Kalau setelah menerima fatwa yang jelas dengan dalil Dan bukti yang jelas, Kita masih bersikap “tergantung niat Kita/ulama tidak perlu didengarkan” maka sudah pasti bahwa Islam akan hancur (cepat atau lama) karena hal yang persis sama telah terjadi di agama2 yang lain.
Coba berfikir begini: mengucapkan “Selamat Natal” adalah sama dengan mengucapkan “Selamat Atas Kelahiran Tuhan Dalam Bentuk Manusia Yang Disalibkan Untuk Menebus Dosa Kita Semua! Selamat Ulang Tahun Ya Tuhan!”
Tentu saja ucapan seperti ini adalah syirik, karena Tuhan tidak pernah lahir sebagai manusia dengan sekaligus tetap sebagai Tuhan Yang Maha Esa, Dan tidak pula bisa dibunuh.
Apakah anda mau melakukan syirik Dan mengucapkan kalimat yang panjang itu (atau versi singkatnya: Selamat Natal), hanya dengan alasan menghormati atau berbuat baik kepada orang kafir yang dila’nat Allah swt?

ALLAH MUSUH ORG KAFIR
[2.98] Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat- Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril Dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir. (Al Baqarah QS: 2.98)

Allah swt. Mela’nat Dan memusuhi orang kafir, tetapi Ada orang yang ingin berbuat baik kepada mereka dengan cara ikut merayakan Hari besar mereka di mana mereka merasa yakin Tuhan lahir dalam bentuk manusia. Sebaiknya, Kita menjaga diri Dan tidak ikut2an bersama mereka walaupun hanya sebatas ucapan.

Dari Ibnu Umar Ra. Berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk di antara mereka. (HR Abu Daud)

Mereka mengucapkan. Kita balas mengucapakan. Berarti Kita menyerupai mereka.
Allah sudah menentukan Islam sebagai agama yang benar, Dan hanya Islam yang diterima di sisi-Nya.

HANYA AGAMA ISLAM YANG DITERIMA ALLAH
85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, Dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.
(Ali Imron QS: 3.85)
[Ayat ini mirip 3.19 : agama yg diridhoi di sisi Allah hanya Islam]

Allah sudah membuat posisi-Nya jelas. Sekarang terserah Kita: apakah Kita mau tetap setia pada Kemauan Allah? Atau apakah Kita mau tetap setia pada kemauan manusia yang sesat?

YAHUDI/NASRANI TDK SENANG HINGGA KAMU IKUTI AGAMA MEREKA
120. Orang-orang Yahudi Dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung Dan penolong bagimu. (Al Baqarah QS: 2.120)

Silahkan memilih sendiri. Saya tidak mau ambil risiko bahwa ucapakan Selamat Natal dicatat para malaikat sebagai syirik. Karena kalau memang begitu, maka saya akan kena dosa besar, yang tidak diampuni, Dan akan masuk neraka hanya karena ingin menghibur hati tentangga/saudara yang dihitung Musuh Allah oleh Allah sendiri.

Kalau orang tua saya telfon Dan mengucapkan Selamat Natal, maka saya jawab dengan “terima kasih” Dan tentu saja saya sudah jelaskan bahwa saya tidak boleh mengikuti acara natal lagi. Walapun begitu, mereka masih telfon saya setiap tahun Dan selalu kirim kado.
Agama Allah sudah jelas. Ajaran Dan hukum Islam sudah jelas. Saya tidak mau menjual ayat Allah atau hukum Allah dengan biaya yang sedikit. Saya ingin berpegang pada ajaran Allah Dan contoh Nabi Muhammad (saw.) dengan cara berhati-hati terhadap hal yang tidak 100% jelas, terutama kalau perkara itu datang dari agama lain yang dila’nat Allah.

Hadits Nabi dari Nu`man bin Basyir : “Sesungguhnya apa apa yang halal itu telah jelas Dan apa apa yang haram itu pun telah jelas, akan tetapi diantara keduanya itu banyak yang syubhat (seperti halal, seperti haram) kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat itu. Barang siapa memelihara diri dari yang syubhat itu, maka bersihlah agamanya Dan kehormatannya, tetapi barang siapa jatuh pada yang syubhat maka berarti IA telah jatuh kepada yang haram, semacam orang yang mengembalakan binatang makan di daerah larangan itu. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan Dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang diharamkan-Nya (oleh karena itu hanya haram jangan didekati).”
Coba anda carikan hadiths di mana Nabi SAW mengucapkan Selamat Natal. Kalau ada, saya belum pernah melihatnya. Dan dengan demikian, mengucapkan kalimat itu, yang tidak pernah diucapkan Nabi SAW adalah bid’ah. Kalau ini adalah perkara yang baik untuk kaum Muslimin, maka tentu saja Nabi Muhammad SAW sudah mulai terlebih dahulu dengan tetangganya yang beragama Kristen.

SETIAP BIDAH ADLH SESAT
Dari Jabir ra. yg berkata : Bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda dalam khutbah Jum’at : “Amma Ba’du, Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah (Al-Qur’an), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW dan sejahat-jahatnya perbuatan (dalam agama) ialah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah (yang diada-adakan) itu adalah sesat.”(H.R. Muslim)

Ada dua pilihan bagi kita:

1. Memilih jalan Allah yang jelas dan juga contoh Nabi Muhammad SAW yang jelas dengan tinggalkan perkara syirik, syubhat dan bid’ah.
2. Atau silahkan mengikuti kemauan orang kafir (dengan mengucapkan Selamat Natal). Dan sekaligus, silahkan mengucapkan “Selamat berzina”, “Selamat bermabuk-mabukan”, dan lain sebagainya. Kaum yang kafir terhadap agama Allah tidak hanya “senang” pada saat Natal, jadi kalau anda ingin “menghibur hati mereka” pada saat natal, semoga anda juga mau menghibur mereka pada saat mereka berangkat untuk berbuat dosa-dosa lain (yang dianggap halal bagi mereka juga).

Wallahu a’lam bish-shawab.

Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto
Http://www.mualaf.com
Silahkan lihat juga di sini:

Syariah Online: Hukum Mengucapkan Selamat Natal
http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/5799

Fatwa Majelis Indonesia: Hukum Natalan Bersama
http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=71

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Tambahan dari Admin : Fatwa MUI tahun 1981 mengenai perayaan Natal Bersama

Lihat di sini